Sabtu, 02 November 2013

Kecewa? Maybe!



                Semua tangisanku aku tumpahkan dalam tulisan ini. Dulu sewaktu aku masih duduk dibangku Sekolah Dasar aku hanya menumpahkan tangisan, rasa haru, bahagia, kecewa, dan sebagianya kedalam buku diary. Tapi seiring berjalannya waktu dan teknologi sudah canggih, perasaan itu bisa dituangkan kedalam bentuk apapun, curhat difcabook, twitter, line, wechat, kakao talk, bahkan diblog.

 2 September 2013, 17:55.
                Aku hanya menyaksikan dua orang berlawan jenis sedang beradu mulut didepanku, mereka terikat suatu hubungan dan tidak selamanya hubungan itu berjalan lurus. Yap, hari itu perempuan dan laki-laki itu tengah mengalami sebuah masalah. Aku gelisah bukan main sambil melirik jam di handphoneku, sebentar lagi magrib akan tiba. Dengan mengisi kekosongan aku memanfaatkan aplikasi camera 360 di hapeku untuk berfoto, hm lumayan banyak album yang tercetak. Koridor sekolahku sudah sangat sepi, hanya terdengar beberapa suara pantulan siswa yang masih mempunyai beberapa urusan di sekolah, aku salah satunya.
                Saat aku menoleh ke kanan aku melihat seorang cowok yang masih lengkap dengan seragam sekolahnya, baju osisnya tidak terlihat karena tertutup jaket biru muda dan tua. Semakin dia melangkah ke arahku semakin aku mengenal sosok cowok itu. Jam tangan warna merah melingkar ditangan kirinya, tubuhnya tegap, dia berjalan sedikit agak aneh. Dan..
“Yaaaaa, ngapain? Knp belum pulang?” sapa cowok berjaket biru itu.
“Hmm, aku lagi nungguin Ulul didalam. Kamu sendiri?” tanya aku.
 Aku sudah duga cowok itu si Alif. Percakapan pun terjadi antara kami berdua, saat Alif hendak memasuki kelas XII IPA 4 dia tersontak kaget.
“Heh? Kenapa Lif?” tanya aku bingung.
 “Oh, Ulul di dalam ya? Ko gabilang sih? Tanya Alif balik menyalahkan aku.
“Paandah, kan aku sudah bilang lagi nungguin Ulul didalam, haiiiihh kamu pasti lagi memikirkan sesuatu ya Lif? Mikirin apa?” tanyaku asal.
“Ah, gapapa kok:p”.
“Eh kamu sama si Rita kenapa? Saling cuek? Kamu sih Lif, ko bisanya sih suka sama Rita? Udah tau Rita temenen ama si Sarah-,-“.
“Haha gatau deh, aku sih pernah deket sama si Rita pas di Lampung dulu, mungkin karena rasa bosanku sama Sarah aku malah mendekati Rita(?)”.
Aku hanya terdiam mendengarkan cerita Alif, jujur ya teman kelasku ini memang agak sediit gagal dalam hal percintaan. Dia memang pandai memikat hati sederet wanita di sekolahku, jurus jitunya adalah gombalan maut. Dalam film 5 cm disebut, Khalil Zafran tapi buat aku Khalil Alif. Saat Alif bercerita tentang hubungannya dengan Rita, hatiku sedikit merasakan sesuatu yang berbeda, ada rasa kecewa, sedih dan marah yang menghampirinya, aku berusaha tertawa didepan Alif. Ulul mungkin masih lama dengan urusannya, dia keluar menghampiri aku dan menitikkan air mata didepanku dan Alif.
“Kenapa Lul?” tanya aku seraya merangkulnya.
Ulul hanya diam, dia kembali masuk kedalam kelas. Suara radio mesjid sudah terdengar, anak asrama sekolahku sudah sibuk mempersiapkan diri menuju mesjid. Aku dan Ulul memutuskan pulang dan mengantar Ulul ke halte. Handphoneku berdering, Rita Arista yang terpampang dilayar handphoneku, aku mengangkatnya dan....
                “Lu dimana?” tanya Rita diseberang sana
                “Jalan. Knp?” jawabku singkat
                Hal itulah yang membuat aku benci dengan diriku sendiri. Aku memang orangnya moodyan banget. Percakapan singkat di telfon barusan menyimpulkan aku harus menjemput Rita di rumah teman aku. Dalam perjalanan pulang, aku dan Rita memilih diam. Aneh sih tapi memang tidak ada topik yang asik untuk dibahas.
                Aku menangis sejadi-jadinya, aku membalap motor matic yang aku pakai melampiaskan kekecewaanku, aku sangat kecewa, sangat kecewa, sangat kecewa. Aku benci dengan semua ini. aku memang bukan orang yang pandai dalam hal percintaan. Tapi setidaknya, ah sudahlah. Percuma saja menceritakan semuanya. Aku memang bukan teman yang cocok untuk kau jadikan tempat curhatmu, tempat berbagi suka dan dukamu. Kau pernah bilang aku yang terlalu sibuk dengan duniaku sendiri, itu karena hanya untuk mengisi kekosongan saja. Aku memang bukan orang yang tepat untuk kau mintai saran, aku memang bukan orang yang tepat untuk kau mintai solusi dan menumpahkan keluh kesalmu. Aku hanya seperti teman yang singgah saat aku butuh, yang parkir semaunya.
                Beberapa tahun yang lalu saat dunia begitu kejam, kau mampu menjadi tempat bersandar untuk aku, kau mampu menjadi penopang tiangku kala aku rapuh. Aku sadar, kau kurang baik apa lagi sama aku? tapi aku yang bodoh. Saat kau berkata bohong aku masih sanggup percaya dengan kata-katamu yang melontarkan kata “Sumpah Demi Allah”. Kadang manusia terpengaruh dengan hal yang sepele seperti akta-kata itu, kata-kata bullshit yang diucapkan oleh orang yang suka berbohong. Aku benciiiiiiiiiiiiii!!!... aku kecewa teman!!! Aku merasa gagal menjadi seorang teman untuk kamu, entahlah itu terserah kamu.
                Mungkin kalian (re: para pembaca) tidak tahu letak kekecewaanku di mana. Yah, itu karena kalian tidak berada posisiku, kadang kita sok mengerti berada diposisi orang tapi tidak merasakan apa yang dirasakan orang tersebut, sudahlah kalimat barusan sungguh membingungkan. Kembali kecerita tadi. Aku tidak ingin menceritakan bagaimana mereka berdua (re: Alif&Rita) bisa terikat satu hubungan, backstreet lebih tepatnya.
                Kalian pernah berteman, bersahabat, bahkan teman yang tadinya biasa saja kalian sudah anggap saudara sendiri selama 4 tahun lamanya? Aku salah satunya, hiks. Tapi saat permasalahan itu aku merasa menjadi teman yang gagal. Sekarang aku mau bertanya pada kalian (re: para pembaca) baagaimana perasaan kalian jika kalian mempunyai teman 4 tahun tersebut mempunyai suatu masalah tapi tidak menceritakan pada kamu? Sakit hati, kecewa, atau bahagia? Aku memilih dua, aku sakit hati & kecewa. Saat Rita mempunyai teman dekat seperti aku, kenapa dia tidak menceritakan masalahnya kepada aku? kenapa sama orang lain?
                “Hm, sebenarnya aku mau menceritakan masalah ini sama kamu, kamulah orang pertama yang akan aku ceritakan, tapi mengingat kamu akrab sama Sarah jadi aku memilih cerita sama yang lain. Maaf yaaL” jelas Rita.
                Aku hanya mengangguk, kecewa sih tapi mau diapa lagi, nasi sudah berubah menjadi bubur. Aku menangis sejadi-jadinya. Yang lebih menyakitkan lagi, dia lebih takut kalau Alif marah daripada aku. hehe tausih, Alif itu pacar Rita tapi begitulah anak remaja jaman sekarang :D menyakitkan bila akan diceritakan kembali!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar