Sabtu, 15 Maret 2014

Bab 7 (Situs Burung Terbang Warna Biru)



Sebelum gue cerita panjang lebar pada sub-bab ini, gue mau bilang kalian para readers jangan salah paham dengan judul sub-babnya. Yang gue maksud situs burung terbang warna biru yaitu salah satu socmed yang paling sering gue kunjungi. Itu twitter. Gue pengguna uname @arianabaik sendiri mengaku senang mempunyai akun twitter. Gue milih uname yang menurut gue unik dan langka @arianabaik , Ariana sendiri nama asli gue, dan BAIK itu singkatan dari nama idola gue Bastian-Aldi-Iqbaal-Kiki. Orang kadang salah ngartiin uname gue yang aslinya gue itu orangnya baik, emang sih gue agak baik gimana gitu sama orang yang lagi butuh bantuan gue. Gue pasti siap bantuin, mention aja ke @arianabaik (sekaligus promosi readers).
Kalau nggak ada tugas atau pekerjaan rumah  gue milih santai sambil main twitter. Nah, waktu itu gue lagi bersantai di tempat tidur dan main-main twitter. Gue stalking abis uname official twitter @coboyjr , gue lihat adminnya lagi ngadain kuis berhadiah jalan bareng dan dapat VCD CJRTM dari Coboy. Gue tertarik kan, siapa tahu aja gue bisa menang. Amin. Gue lihat syaratnya cuma mengomentari VC terbaru mereka yang berjudul ‘Pelangi dan Mimpi’ diyutub.
Gue langsung ngambil posisi yang mantep, gue ambil notebook, colokin modem, lalu searching di yutub ‘Pelangi dan Mimpi’, satu jendela lagi gue buka buat goggle translate maklum gue nggak lincah berbahasa Inggris terus ngomen diyutubnya harus pakai bahasa Inggris.
Setelah gue merangkai kata-kata yang pas buat ditranslate, gue ketik lagi kata-kata yang udah gue translate di kolom yang tersedia, setelah itu gue klik enter. Kata teman-teman comate ditwitter, pengumuman pemenangnya setelah shalat isya. Karena gue ngirimnya terlalu cepat, ashar dan magrib belum lewat. Gue ambil air wudhu lalu shalat ashar, gue berdoa semoga gue yang menang kuis tersebut. Mari bilang amin readers.
Tapi, jangan salah paham deh, gue shalat bukan supaya doa gue dikabulkan tapi karena gue emang anaknya rajin. Papa mama gue selalu ngingatin buat shalat 5 waktu, karena itu wajib coy, meskipun shalat gua nggak sesempurna ustad-ustad yang jadi imam di masjid-masjid. Angin yang berhembus dari kamar jendela membuat gue jadi ngantuk. Suasananya cocok banget buat tidur siang. Perlahan gue membetulkan posisi tidur yang salah, terus gue mulai memejamkan mata.
Di luar sana gue lagi bercanda bareng Coboy Junior, gue terpilih menjadi pemenang kuis Coboy dan satu lagi comate yang gue temani, namanya Camiee, comate asal Aussie. Bangga banget punya fens sampai luar negeri gitu, proud to be comate, asikkk. Gue, Camiee dan Coboy jalan-jalan ke dufan, dufannya udah dibooking abis sama maneger Coboy makanya sepi. Gue salting bukan main berdiri di depan cowok cakep, Camiee juga begitu. Coboy ngajak gue dan Camiee main sepuasnya di dufan, mereka ber-empat membuka baju yang mereka pakai (eits jangan fiktor) terus nyemplung ke kolam renang. Gue sama Camiee buru-buru ganti pakaian terus ikut berenang. Gue sih paling benci yang namanya berenang, bukan apa-apa gue nggak tahu sama sekali berenang, yang gue tahu hanya gaya batu. Sementara Coboy dan Camiee lagi main bola dalam air, gue nggak ikutan.
Gue duduk di tepi kolam, meringkuk kedinginan. Mereka seru banget mainnya, tawanya lepas, kayak bukan fens dan idolanya, tapi udah seperti teman sendiri. Bastian natap gue terus dia ke tepi kolam, dia nanya kenapa ngga ikutan main. Gue butuh oksigen, napas gue hilang-hilang, barusan gue diajak bicara sama pangeran ya Allah.
Setelah puas berenang, mereka ngajak gue dan Camiee makan siang. Gue duduk di samping Aldi, gue hampir kehabisan napas karena natap Aldi lama-lama, efeknya bisa bikin diabetes dan susah tidur selama 2 minggu. Aldi orangnya perhatian banget meskipun rambutnya nutupin satu matanya.
“Kamu asli Jogja ya?” Tanya Aldi kemudian.
“Hemm, i..i..iya,” goblok. Jawab iya aja susahnya pake banget.
“Kelas berapa? Udah dari kapan jadi comate? Tanya Kiki dengan senyum yang manis.
Lagi-lagi gue butuh oksigen, gue selalu kehabisan oksigen kalau lihat mereka, apalagi ngajak gue ngomong. Gue tersadar dari lamunan, pertanyaan Kiki belum gue jawab.
“Oh aku kelas 2 SMA, hm lumayan udah lama sih.”
“Apa sih suka dukanya selamu kamu jadi comate?” Kiki nanya lagi.
“Sukanya punya banyak teman dari berbagai kota bahkan luar negeri, kalian bisa jadi moodbaster, inspirasi dan penyemangat deh. Dukanya itu kalau kalian nongol di tivi tapi gue nggak bisa lihat kalian perform, harga tiket konser kalian mahal, kalian opmen atau opfoll tapi gue nggak kebagian, biasa ada comate yang ehmm, fanatik gitudeh,” gue berasa curhat sama mereka. Mereka ber-empat hanya mangut-mangut, entahlah mereka mengerti atau nggak.
Setelah malam tiba, mereka ngajakin gue sama Camiee kesalah satu café yang romantis di Jakarta. Cafenya di pinggir pantai, ombaknya keren. Lampunya kedap-kedip, udah kayak orang pacaran aja. Bagi siapapun yang ingin nembak cewek atau ngelamar cewek di sini tempat yang paling cocok, di Café Batavia, Jalan Pintu Kecil No.14 Jakarta, Kota Jakarta Barat, DKI Jakarta 11230, Indonesia.
Gue ngerasa aneh, sosok mereka berempat yang tadi semeja makan kini jadi ngilang satu-satu, jangan-jangan mereka hantu atau gimana? Atau jangan-jangan gue yang mimpi? Seingat gue, gue masih berbaring di ranjang kamar gue dengan posisi yang wenak. Sebenarnya gue takut, takut kalau semuanya ternyata hanya mimpi. Gue takut buka mata, takut lihat jendela, takut lihat pintu, takut semuanya deh. Dengan berat hati, gue buka mata juga dan semuanya ternyata mimpi.
Twitter telah menghipnotis gue sampai kebawa mimpi, pas gue sadar kalau gue mimpi gue nangis kayak orang kesetrum, mimpi gue barusan udah bikin gue melayang sampai langit ketujuh lalu gue jatuh sampai tanah ketujuh, keras banget. Twitter juga udah mengubah hidup gue beberapa derajat.
Twitter juga udah ngebuat gue nggak tidur semalaman gara-gara nunggu di sapa bidadari yang setiap hari di bully. Selain itu, twitter juga udah ngenipu gue habis-habisan. Sebelum gue ngefens sama Coboy, gue pernah lihat di timeline pengguna uname @alvaremaldini1 mentionan  dengan teman comate gue di twitter, gue kira Aldi Coboy Junior ternyata parody Aldi. Gue jengkel sejengkel-jengkelnya, bukannya apa gue terlalu membanggakan kalau mention gue dibalas artis, tapi bukan artis yang balas, melainkan manusia baisa. Eh tapi artis itu juga manusia biasakan? Setelah gue ngefans habis-habisan sama Coboy akhirnya gue ngefollow semua member Coboy dan sampai sekarang lo tahu sesuatu nggak? Mention gue belum sekalipun dibalas mereka. Yaterus?


Bab 6 (Banjir dan Ice cream)




Erghhh banjir dan ice cream..
            Ada satu hal yang buat gue benci banjir. Yaitu, saat gue kelas 1 SMP, hari itu ada pelajaran Bahasa Indonesia, gue paksain buat ke sekolah padahal kawasan sekolah lagi banjir. Guru yang ngajar hari itu galak banget, kalau nggakk masuk hari ini bisa-bisa minggu depannya gue dikeroyok dan dijadikan makanan ternak. Akhirnya gue maksain diri buat ke sekolah. Gue harus melewati banjir setinggi paha. Karena rasa takut gue sama tuh guru lebih besar dibandingkan rasa takut sama belut, jadilah gue menorobos genangan air yang deras itu alhasil pas jalan di pinggir selokan, gue jatuh masuk ke got yang nggak kelihatan. Badan gue terendam air setengah badan, basah kuyup masuk sekolah, temen gue tiba-tiba ngampirin dan bilang dengan santainya “Gurunya gamasuk Ri”. Jleb. Gue ngutuk diri gue habis-habisan, sejak saat itu gue benci melihat genangan air. Tapi ada satu hal lagi yang gue benci soal banjir, yaitu terjebak banjir gara-gara ice cream.
            Waktu itu adik gue yang paling bungsu, Atul merengek minta dibeliin ice cream. Awalnya gue acuh tak acuh menanggapi permintaannya. Lama-kelamaan Atul semakin merengek dan membujuk gue supaya ke supermarket. Erghhhhh. Gue mulai risih dengan permintaan Atul itu, dengan tampang setengah ikhlas dan senyum yang sangat terpaksa, gue akhirnya mengiyakan permintaan Atul. Sebenarnya hari ini gue capek banget, tugas dan kegiatan sekolah membuat gue butuh istirahat yang cukup. Setelah mengganti seragam sekolah dengan pakaian rumah, gue berjalan menuju garasi untuk mengeluarkan motor bebek.
            “Kaaa mau kemana? Fadel ikut dong”
            “Ikut aja, tapi jangan rewel, jangan bandel, jangan bacot, beli ice-creamnya satu aja” Jawab gue sewot.
            Setelah memanaskan motor bebek yang bermodifikasi abu-abu putih selama 5 menit, gue membuka gerbang dan membonceng mereka menuju supermarket terdekat. Atul di depan dan Fadel di belakang. Malang, supermarket yang paling dekat dengan rumah gue saat itu tutup. Untuk menuju supermarket yang lain harus menyebrangi jalan raya. Nah dijalan raya biasanya ada cowok pake celana coklat, topi putih, rompi hijau lengkap dengan sempritan dilengan kirinya, yup this is potlantas (polisi lalu lintas). Gue membalik motor dan kembali ke rumah. Atul dan Fadel hanya diam membisu. Gue berencana pulang ke rumah untuk ngambil helm karena takut ditilang. Bentar lagi hujan, langit yang tadinya terang kini sedikit berubah menjadi gelap. Dengan kecepatan 60 km/jam gue membalap motor, Atul dan Fadel hanya menggeleng ngelihat gue membalap motor bebek itu bak Rossi kw 18.
            “Ka pelan2. Fadel mau terbang nih,” teriak Fadel sambil meluk erat perut gue.
            “Del, meluknya jangan erat2. Perut aku sakit tau,” gue mulai sewot.
            “Iya ka, ini meluknya udah erat.” Jawab Fadel nggak nyambung.
            Gue mendengus kesal, masih sibuk menarik gas motor. Supermarket masih jauh.
            “Ka, ada air jatuh dari langit dihadapanku eyaaa.” Canda Atul dengan polos.
            “Diam aja. Malah nyanyi. Pegangan. Fadel ada di belakang kan?” Tanya gue.
            Fadel tidak membuka suara, tapi tangannya masih melingkar diperut gue. Gue khawatir, takutnya Fadel ketiduran. Fadel memang kebiasaan tidur dalam perjalanan, makanya tadi gue agak ragu membawa Fadel. Gue mengubah kecepatannya menjadi 40 km/jam. Kali ini lambat sekali, siput lebih cepat jalannya daripada motor gue. Yang dikatakan Atul benar, ada air jatuh dari langit. Gerimis. Gue harap, gerimisnya nggak deras dan sampai di supermarket tepat waktu. Gue menggerutu dalam hati. Perasaan gue mulai kacau. Jogjakarta sore itu padat. Suara klakson berbunyi di mana-mana. Macet. Gerimis dan lupa bawa mantel. Supermarket masih jauh. Fadel ketiduran. Bensin mulai error. Uang pas-pasan. Sepaket, gue makin panik. Suara sempritan potlantas membuat gue agak legah. Seorang bapak tepat di samping gue berhenti dan membuka kaca helmnya, ngingetin gue supaya hati-hati karena Fadel tidur di belakang.
            Tadinya yang hanya gerimis sekarang berubah menjadi hujan, apaan berubah macam porengers aja hehehe *ketawa garing*. Dengan perlengkapan seadanya, gue menepi di emperan toko. Gue mematikan motor dan membangunkan Fadel. Gue sempat pusing memberikan jaket snoppy yang gue kenakan kepada siapa, Atul atau Fadel. Supaya seimbang dan nggak ada yang iri, gue nggak memberikannya kepada siapapun. Hujan makin deras. Gue takut adik gue kenapa-kenapa, tapi saat gue berbalik arah, jrengggg Atul & Fadel malah ke-enekan main hujan-hujan.
            “Kak kalau di rumah gapernah main hujan2. Sekarang aja mainnya.” Ucap Fadel.
            “Iyaa kak, mumpung mama papa lagi ga ada.” Atul menambahkan.
            Yekali mama dan papa nggak ada. Gue hanya bengong melihat kedua kurcaci itu. Setelah terdiam cukup lama, hampir lupa, tujuan pertama gue bukan untuk main hujan-hujan tapi beli ice-cream untuk adik gue dan pulang ke rumah dengan cepat dan selamat.
            “Dell Tulll, jangan main hujan2, entar sakit. Gue yang dimarahin sama emak,” tegur gue sambil merapikan rambut yang berantakan.
            “Jadi beli ice-cream ga?” Gue bertanya lagi.
            Lagi-lagi mereka hanya menoleh sebentar dan balik lagi main hujan-hujanan. Tiba-tiba genangan air semakin banyak, Jogjakarta sore itu semakin padat. Lebih padat sebelum hujan deras turun. Gue makin panik, kali ini gue lebih tegas kepada mereka berdua.
            “Berhenti ga? Kalau nggak, gue yang berhenti!!!” Gue mulai sewot.
            Dengan sigap dan lincah, Atul dan Fadel melompat ke atas motor. Kalimat barusan manjur, mereka berdua tidak mengerti kalimat yang gue lontarkan barusan. Motor gue nggak bisa bunyi, takutnya tuh motor bensinnya habis, seandainya bensin bisa diganti dengan air maka jarum bensin yang tadinya di samping huruf (E) sekarang berada diatas huruf (F), gue bergumam dalam hati. Lamunan gue buyar saat ada seseorang yang berteriak “Banjirrrrr”. Belum cukup lama gue sadar dari panik sekarang makin panik. Kepanikan gue menjadi panik kuadrat plus 2. Gue pusing mau nyembunyikan Atul dan Fadel di mana, makanya jadi adik jangan gede-gede, entar narohnya susah. Gue berpikir keras sedangkan mereka berdua malah merengek minta ice-cream.
            “Ka, kita udah sejam dijalan, tapi belum dapat ice-cream.” Rengek Atul.
            “Iyanih ka. Supermarketnya di manasih? Besok suruh pindah aja didepan rumah biar belinya cepet,” tambah Fadel nggak kalah rewel.
            “Mindahin nenek lu peyang. Lukira supermarket itu punya emak lohh?” Jawab gue kesal.
            “Hm Fadel baru tau, kalo supermarket yang itu punya mama kita hehe.” Fadel cengengesan.
            “Diem nggak luu, kalau enggak... belum sempat gue melanjutkan kalimat itu buru-buru Atul & Fadel melanjutkannya “Aku yang diem” tampang muka polos. Gue cengengesan sendiri.
            Motor gue nggak mau bunyi, gue makin panik. Untung ada seorang bapak yang tidak menyebutkan identitasnya sedikitpun telah membantu gue menghidupkan motor yang sempat vacum beberapa menit karena kedinginan. Kini formasinya berubah, tadi 1:1:1 sekarang tetap 1:1:1. Terus yang berubah apanya? Yang berubah hanya tempat duduk mereka  berdua saja, Fadel yang tadinya di belakang pindah di depan, dan Atul yang tadinya di depan kini semakin di depan udeh cocok jadi teman duet Komeng buat iklan Yamaha ‘Semakin di Depan’.  Hujannya masih stabil, langitnya masih nangis. Entahlah apa yang membuat langit nangis sore itu, mungkin karena langit minta dibelikan ice-cream tapi supermarket dekat rumah langit juga tutup.
            Kecepatan motor gue hanya melaju 20 km/jam, harus hati-hati soalnya jalanan sangat licin. Hujan nyambar mengenai mata, mata gue perih. Gue menyuruh Atul & Fadel  nutup matanya biar nggak kena air hujan, tapi bukan adik gue namanya kalau yang diperintahkan (A) yang dilakukan (B). Gue hanya geleng-geleng kepala. Sebentar lagi sampai di supermarket  tapi dussss, motor gue mati di tengah jalan. Kali ini bukan bensinya yang abis, tapi businya yang terganggu karena menyerap air terlalu banyak. Untuk yang kedua kalinya gue menepi di pinggir jalan.
            Karena udah ngaak kuat dengan keluhan Atul & Fadel, akhirnya kita bertiga memilih berjalan dan meninggalkan motor di depan toko yang udah tutup. Dingin. Hawanya benar-benar menusuk. Akhirnya sampai juga. Saat hendak ingin memasuki supermarket, Atul & Fadel melihat penjual ice-cream di pinggir jalan. Mereka berdua menarik tangan gue menuju ke penjual es tersebut. Sontak gue kaget, saat supermarket udah di depan mata, mereka berdua memilih untuk meninggaklkannya begitu aja. Kalian berdua tidak setia, walaupun kutau ice-cream yang ini lebih enak dari yang itu. Wets, Fatin KW 2 coy kalau dilihat dari Monas, wkwk. Dengan berat hati dan senyum yang sangat manis tapi lebih manis lagi kalau tidak terpaksa gue menuruti kemauan dua kurcaci itu.
            “Bang berapa bang?” Tanya gue saat sampai di depan penjual es di pinggir jalan.
            “Berapa apanya de?” Penjual esnya balik nanya.
            “Esnya bang, berapa? Jualan es kan?”
            “Iya jual non. Tapi udah habis. Diborong sama tuan yang disebelah sana.” Sambil menunjuk tuan yang memakai baju ciri khas Jepang.
            Kecewa. Gue, Atul & Fadel kembali menyebrangi jalan menuju supermarket tadi. Gue tidak henti-hentinya ngoceh sepanjang perjalanan saat nyebrang. Ujung-ujungnya kembali ke supermarket yang tadi.
            “Mau rasa apa? Ambil cepet, terus bayar baru pulang.”
            “Ka, udah gamau ice-cream nih. Masa iya dingin-dingin minum ice-cream, cocoknya itu makan mie pangsit sambil minum teh hangat kak.” Jawab Fadel tanpa merasa bersalah.
            “Iya ka, aku setuju dengan pendapat Fadel. Entar giginya ngilu lagi minum ice-cream dingin-dingin gini.” Atul yang sok dewasa ikut menambahkan.
            Kamfret! Rasanya saat itu juga gua pengen kubur hidup-hidup mereka berdua. Dengan sabar dan tetap tersenyum paksa, gue bertiga jalan lagi menuju penjual pangsit yang nggak jauh dari supermarket tersebut. Lumayan banyak orang yang berteduh di warung ‘Datang Lagi’ sore itu. Gue bertiga masuk dan milih tempat duduk yang paling nyaman. Kali ini gue nggak akan lolos dari kejahilan kedua kurcaci itu. Buru-buru gue mesan 3 mie pangsit dan 3 teh hangat. Hanya butuh waktu 10 menit untuk menunggu pesanan datang, nggak perlu berhari-hari karena pengiriman bukan lewat JNE. Gue, Atul & Fadel  makan dengan lahapnya sambil menunggu genangan air surut. Saat gue ngecek handphone ada beberapa panggilan nggak terjawab dari emak dan bapak secara bergantian. Paling juga yang dicariin Atul sama Fadel, ucap gue dalam hati. Setelah membayar makan pada kasir, gue bertiga ketempat markir motor tadi. Gue kaget melihat orang berkerumunan seperti semut di tempat gue markir motor.
            “Ada apaan pak? Motor mio yang tadi parkir di sini di mana?” Tanya gue kebingungan.
            “Tadi, genangan air sampai sini nak. Makanya motor yang abu-abu putih itu diangkut ketempat lain.” Jelas panjang lebar bapak tua berjanggut hitam itu.
            Keringat dingin yang bercucuran dari kepala sampai kaki membuat gue tambah kedinginan, sebenarnya bukan keringat dingin sih melainkan air hujan. Tapi kali ini serius, gue takut setengah rindu seperti lagu D’masiv aku rindu setengah mati. Atau seperti lagu Vierra, aku takut mio pergi mio hilang mio sakit aku ingin mio di sini di sampingku selamanya. Gue takut terjadi sesuatu pada motor itu. Atul & Fadel pun ikut merasakan kepanikan gue meskipun mereka hanya sok merasa. Gue bertiga menuju tempat yang ditunjukan bapak berjanggut hitam itu. Alhamdulillah motornya masih di sana, tidak sedikitpun terlihat lecet dari bagian motor tersebut.
Setelah genangan air surut, gue milih untuk pulang, tapi karena magrib tlah tiba seperti lagu Tasya Kamila, magrib tlah tiba, magrib tlah tiba hatiku gembira. Gue bertiga memutuskan untuk menunggu shalat magrib selesai, Fadel ikut shalat jama’ah di mesjid, gue dan Atul menunggu di teras mesjid. 
Brummmm... Brum... ternyata perjalanan cukup jauh. Selamat datang Kompleks Secapa Polri ucap gue, Atul, Fadel secara bersamaan. Gue udah nyiapin mental fisik dan batin kalau-kalau gue kena marah(?) tapi entah ada angin apa yang menerpa hati mama dan papa gue tiba-tiba baik banget. Gue langsung menuju kamar dan satu lagi sebelum gue benar-benar memejamkan mata, ternyata ada tugas Sejarah yang belum gue kerjain. Omaigattt, kata gue seraya menjatuhkan badan dikasur dan tertidur pulas. Melelahkan.