Sabtu, 15 Maret 2014

Bab 6 (Banjir dan Ice cream)




Erghhh banjir dan ice cream..
            Ada satu hal yang buat gue benci banjir. Yaitu, saat gue kelas 1 SMP, hari itu ada pelajaran Bahasa Indonesia, gue paksain buat ke sekolah padahal kawasan sekolah lagi banjir. Guru yang ngajar hari itu galak banget, kalau nggakk masuk hari ini bisa-bisa minggu depannya gue dikeroyok dan dijadikan makanan ternak. Akhirnya gue maksain diri buat ke sekolah. Gue harus melewati banjir setinggi paha. Karena rasa takut gue sama tuh guru lebih besar dibandingkan rasa takut sama belut, jadilah gue menorobos genangan air yang deras itu alhasil pas jalan di pinggir selokan, gue jatuh masuk ke got yang nggak kelihatan. Badan gue terendam air setengah badan, basah kuyup masuk sekolah, temen gue tiba-tiba ngampirin dan bilang dengan santainya “Gurunya gamasuk Ri”. Jleb. Gue ngutuk diri gue habis-habisan, sejak saat itu gue benci melihat genangan air. Tapi ada satu hal lagi yang gue benci soal banjir, yaitu terjebak banjir gara-gara ice cream.
            Waktu itu adik gue yang paling bungsu, Atul merengek minta dibeliin ice cream. Awalnya gue acuh tak acuh menanggapi permintaannya. Lama-kelamaan Atul semakin merengek dan membujuk gue supaya ke supermarket. Erghhhhh. Gue mulai risih dengan permintaan Atul itu, dengan tampang setengah ikhlas dan senyum yang sangat terpaksa, gue akhirnya mengiyakan permintaan Atul. Sebenarnya hari ini gue capek banget, tugas dan kegiatan sekolah membuat gue butuh istirahat yang cukup. Setelah mengganti seragam sekolah dengan pakaian rumah, gue berjalan menuju garasi untuk mengeluarkan motor bebek.
            “Kaaa mau kemana? Fadel ikut dong”
            “Ikut aja, tapi jangan rewel, jangan bandel, jangan bacot, beli ice-creamnya satu aja” Jawab gue sewot.
            Setelah memanaskan motor bebek yang bermodifikasi abu-abu putih selama 5 menit, gue membuka gerbang dan membonceng mereka menuju supermarket terdekat. Atul di depan dan Fadel di belakang. Malang, supermarket yang paling dekat dengan rumah gue saat itu tutup. Untuk menuju supermarket yang lain harus menyebrangi jalan raya. Nah dijalan raya biasanya ada cowok pake celana coklat, topi putih, rompi hijau lengkap dengan sempritan dilengan kirinya, yup this is potlantas (polisi lalu lintas). Gue membalik motor dan kembali ke rumah. Atul dan Fadel hanya diam membisu. Gue berencana pulang ke rumah untuk ngambil helm karena takut ditilang. Bentar lagi hujan, langit yang tadinya terang kini sedikit berubah menjadi gelap. Dengan kecepatan 60 km/jam gue membalap motor, Atul dan Fadel hanya menggeleng ngelihat gue membalap motor bebek itu bak Rossi kw 18.
            “Ka pelan2. Fadel mau terbang nih,” teriak Fadel sambil meluk erat perut gue.
            “Del, meluknya jangan erat2. Perut aku sakit tau,” gue mulai sewot.
            “Iya ka, ini meluknya udah erat.” Jawab Fadel nggak nyambung.
            Gue mendengus kesal, masih sibuk menarik gas motor. Supermarket masih jauh.
            “Ka, ada air jatuh dari langit dihadapanku eyaaa.” Canda Atul dengan polos.
            “Diam aja. Malah nyanyi. Pegangan. Fadel ada di belakang kan?” Tanya gue.
            Fadel tidak membuka suara, tapi tangannya masih melingkar diperut gue. Gue khawatir, takutnya Fadel ketiduran. Fadel memang kebiasaan tidur dalam perjalanan, makanya tadi gue agak ragu membawa Fadel. Gue mengubah kecepatannya menjadi 40 km/jam. Kali ini lambat sekali, siput lebih cepat jalannya daripada motor gue. Yang dikatakan Atul benar, ada air jatuh dari langit. Gerimis. Gue harap, gerimisnya nggak deras dan sampai di supermarket tepat waktu. Gue menggerutu dalam hati. Perasaan gue mulai kacau. Jogjakarta sore itu padat. Suara klakson berbunyi di mana-mana. Macet. Gerimis dan lupa bawa mantel. Supermarket masih jauh. Fadel ketiduran. Bensin mulai error. Uang pas-pasan. Sepaket, gue makin panik. Suara sempritan potlantas membuat gue agak legah. Seorang bapak tepat di samping gue berhenti dan membuka kaca helmnya, ngingetin gue supaya hati-hati karena Fadel tidur di belakang.
            Tadinya yang hanya gerimis sekarang berubah menjadi hujan, apaan berubah macam porengers aja hehehe *ketawa garing*. Dengan perlengkapan seadanya, gue menepi di emperan toko. Gue mematikan motor dan membangunkan Fadel. Gue sempat pusing memberikan jaket snoppy yang gue kenakan kepada siapa, Atul atau Fadel. Supaya seimbang dan nggak ada yang iri, gue nggak memberikannya kepada siapapun. Hujan makin deras. Gue takut adik gue kenapa-kenapa, tapi saat gue berbalik arah, jrengggg Atul & Fadel malah ke-enekan main hujan-hujan.
            “Kak kalau di rumah gapernah main hujan2. Sekarang aja mainnya.” Ucap Fadel.
            “Iyaa kak, mumpung mama papa lagi ga ada.” Atul menambahkan.
            Yekali mama dan papa nggak ada. Gue hanya bengong melihat kedua kurcaci itu. Setelah terdiam cukup lama, hampir lupa, tujuan pertama gue bukan untuk main hujan-hujan tapi beli ice-cream untuk adik gue dan pulang ke rumah dengan cepat dan selamat.
            “Dell Tulll, jangan main hujan2, entar sakit. Gue yang dimarahin sama emak,” tegur gue sambil merapikan rambut yang berantakan.
            “Jadi beli ice-cream ga?” Gue bertanya lagi.
            Lagi-lagi mereka hanya menoleh sebentar dan balik lagi main hujan-hujanan. Tiba-tiba genangan air semakin banyak, Jogjakarta sore itu semakin padat. Lebih padat sebelum hujan deras turun. Gue makin panik, kali ini gue lebih tegas kepada mereka berdua.
            “Berhenti ga? Kalau nggak, gue yang berhenti!!!” Gue mulai sewot.
            Dengan sigap dan lincah, Atul dan Fadel melompat ke atas motor. Kalimat barusan manjur, mereka berdua tidak mengerti kalimat yang gue lontarkan barusan. Motor gue nggak bisa bunyi, takutnya tuh motor bensinnya habis, seandainya bensin bisa diganti dengan air maka jarum bensin yang tadinya di samping huruf (E) sekarang berada diatas huruf (F), gue bergumam dalam hati. Lamunan gue buyar saat ada seseorang yang berteriak “Banjirrrrr”. Belum cukup lama gue sadar dari panik sekarang makin panik. Kepanikan gue menjadi panik kuadrat plus 2. Gue pusing mau nyembunyikan Atul dan Fadel di mana, makanya jadi adik jangan gede-gede, entar narohnya susah. Gue berpikir keras sedangkan mereka berdua malah merengek minta ice-cream.
            “Ka, kita udah sejam dijalan, tapi belum dapat ice-cream.” Rengek Atul.
            “Iyanih ka. Supermarketnya di manasih? Besok suruh pindah aja didepan rumah biar belinya cepet,” tambah Fadel nggak kalah rewel.
            “Mindahin nenek lu peyang. Lukira supermarket itu punya emak lohh?” Jawab gue kesal.
            “Hm Fadel baru tau, kalo supermarket yang itu punya mama kita hehe.” Fadel cengengesan.
            “Diem nggak luu, kalau enggak... belum sempat gue melanjutkan kalimat itu buru-buru Atul & Fadel melanjutkannya “Aku yang diem” tampang muka polos. Gue cengengesan sendiri.
            Motor gue nggak mau bunyi, gue makin panik. Untung ada seorang bapak yang tidak menyebutkan identitasnya sedikitpun telah membantu gue menghidupkan motor yang sempat vacum beberapa menit karena kedinginan. Kini formasinya berubah, tadi 1:1:1 sekarang tetap 1:1:1. Terus yang berubah apanya? Yang berubah hanya tempat duduk mereka  berdua saja, Fadel yang tadinya di belakang pindah di depan, dan Atul yang tadinya di depan kini semakin di depan udeh cocok jadi teman duet Komeng buat iklan Yamaha ‘Semakin di Depan’.  Hujannya masih stabil, langitnya masih nangis. Entahlah apa yang membuat langit nangis sore itu, mungkin karena langit minta dibelikan ice-cream tapi supermarket dekat rumah langit juga tutup.
            Kecepatan motor gue hanya melaju 20 km/jam, harus hati-hati soalnya jalanan sangat licin. Hujan nyambar mengenai mata, mata gue perih. Gue menyuruh Atul & Fadel  nutup matanya biar nggak kena air hujan, tapi bukan adik gue namanya kalau yang diperintahkan (A) yang dilakukan (B). Gue hanya geleng-geleng kepala. Sebentar lagi sampai di supermarket  tapi dussss, motor gue mati di tengah jalan. Kali ini bukan bensinya yang abis, tapi businya yang terganggu karena menyerap air terlalu banyak. Untuk yang kedua kalinya gue menepi di pinggir jalan.
            Karena udah ngaak kuat dengan keluhan Atul & Fadel, akhirnya kita bertiga memilih berjalan dan meninggalkan motor di depan toko yang udah tutup. Dingin. Hawanya benar-benar menusuk. Akhirnya sampai juga. Saat hendak ingin memasuki supermarket, Atul & Fadel melihat penjual ice-cream di pinggir jalan. Mereka berdua menarik tangan gue menuju ke penjual es tersebut. Sontak gue kaget, saat supermarket udah di depan mata, mereka berdua memilih untuk meninggaklkannya begitu aja. Kalian berdua tidak setia, walaupun kutau ice-cream yang ini lebih enak dari yang itu. Wets, Fatin KW 2 coy kalau dilihat dari Monas, wkwk. Dengan berat hati dan senyum yang sangat manis tapi lebih manis lagi kalau tidak terpaksa gue menuruti kemauan dua kurcaci itu.
            “Bang berapa bang?” Tanya gue saat sampai di depan penjual es di pinggir jalan.
            “Berapa apanya de?” Penjual esnya balik nanya.
            “Esnya bang, berapa? Jualan es kan?”
            “Iya jual non. Tapi udah habis. Diborong sama tuan yang disebelah sana.” Sambil menunjuk tuan yang memakai baju ciri khas Jepang.
            Kecewa. Gue, Atul & Fadel kembali menyebrangi jalan menuju supermarket tadi. Gue tidak henti-hentinya ngoceh sepanjang perjalanan saat nyebrang. Ujung-ujungnya kembali ke supermarket yang tadi.
            “Mau rasa apa? Ambil cepet, terus bayar baru pulang.”
            “Ka, udah gamau ice-cream nih. Masa iya dingin-dingin minum ice-cream, cocoknya itu makan mie pangsit sambil minum teh hangat kak.” Jawab Fadel tanpa merasa bersalah.
            “Iya ka, aku setuju dengan pendapat Fadel. Entar giginya ngilu lagi minum ice-cream dingin-dingin gini.” Atul yang sok dewasa ikut menambahkan.
            Kamfret! Rasanya saat itu juga gua pengen kubur hidup-hidup mereka berdua. Dengan sabar dan tetap tersenyum paksa, gue bertiga jalan lagi menuju penjual pangsit yang nggak jauh dari supermarket tersebut. Lumayan banyak orang yang berteduh di warung ‘Datang Lagi’ sore itu. Gue bertiga masuk dan milih tempat duduk yang paling nyaman. Kali ini gue nggak akan lolos dari kejahilan kedua kurcaci itu. Buru-buru gue mesan 3 mie pangsit dan 3 teh hangat. Hanya butuh waktu 10 menit untuk menunggu pesanan datang, nggak perlu berhari-hari karena pengiriman bukan lewat JNE. Gue, Atul & Fadel  makan dengan lahapnya sambil menunggu genangan air surut. Saat gue ngecek handphone ada beberapa panggilan nggak terjawab dari emak dan bapak secara bergantian. Paling juga yang dicariin Atul sama Fadel, ucap gue dalam hati. Setelah membayar makan pada kasir, gue bertiga ketempat markir motor tadi. Gue kaget melihat orang berkerumunan seperti semut di tempat gue markir motor.
            “Ada apaan pak? Motor mio yang tadi parkir di sini di mana?” Tanya gue kebingungan.
            “Tadi, genangan air sampai sini nak. Makanya motor yang abu-abu putih itu diangkut ketempat lain.” Jelas panjang lebar bapak tua berjanggut hitam itu.
            Keringat dingin yang bercucuran dari kepala sampai kaki membuat gue tambah kedinginan, sebenarnya bukan keringat dingin sih melainkan air hujan. Tapi kali ini serius, gue takut setengah rindu seperti lagu D’masiv aku rindu setengah mati. Atau seperti lagu Vierra, aku takut mio pergi mio hilang mio sakit aku ingin mio di sini di sampingku selamanya. Gue takut terjadi sesuatu pada motor itu. Atul & Fadel pun ikut merasakan kepanikan gue meskipun mereka hanya sok merasa. Gue bertiga menuju tempat yang ditunjukan bapak berjanggut hitam itu. Alhamdulillah motornya masih di sana, tidak sedikitpun terlihat lecet dari bagian motor tersebut.
Setelah genangan air surut, gue milih untuk pulang, tapi karena magrib tlah tiba seperti lagu Tasya Kamila, magrib tlah tiba, magrib tlah tiba hatiku gembira. Gue bertiga memutuskan untuk menunggu shalat magrib selesai, Fadel ikut shalat jama’ah di mesjid, gue dan Atul menunggu di teras mesjid. 
Brummmm... Brum... ternyata perjalanan cukup jauh. Selamat datang Kompleks Secapa Polri ucap gue, Atul, Fadel secara bersamaan. Gue udah nyiapin mental fisik dan batin kalau-kalau gue kena marah(?) tapi entah ada angin apa yang menerpa hati mama dan papa gue tiba-tiba baik banget. Gue langsung menuju kamar dan satu lagi sebelum gue benar-benar memejamkan mata, ternyata ada tugas Sejarah yang belum gue kerjain. Omaigattt, kata gue seraya menjatuhkan badan dikasur dan tertidur pulas. Melelahkan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar