Erghhh banjir dan ice cream..
Ada
satu hal yang buat gue benci banjir. Yaitu, saat gue kelas 1 SMP, hari itu ada
pelajaran Bahasa Indonesia, gue paksain buat ke sekolah padahal kawasan sekolah
lagi banjir. Guru yang ngajar hari itu galak banget, kalau nggakk masuk hari
ini bisa-bisa minggu depannya gue dikeroyok dan dijadikan makanan ternak.
Akhirnya gue maksain diri buat ke sekolah. Gue harus melewati banjir setinggi
paha. Karena rasa takut gue sama tuh guru lebih besar dibandingkan rasa takut
sama belut, jadilah gue menorobos genangan air yang deras itu alhasil pas jalan
di pinggir selokan, gue jatuh masuk ke got yang nggak kelihatan. Badan gue
terendam air setengah badan, basah kuyup masuk sekolah, temen gue tiba-tiba
ngampirin dan bilang dengan santainya “Gurunya gamasuk Ri”. Jleb. Gue ngutuk
diri gue habis-habisan, sejak saat itu gue benci melihat genangan air. Tapi ada
satu hal lagi yang gue benci soal banjir, yaitu terjebak banjir gara-gara ice
cream.
Waktu
itu adik gue yang paling bungsu, Atul merengek minta dibeliin ice cream.
Awalnya gue acuh tak acuh menanggapi permintaannya. Lama-kelamaan Atul semakin
merengek dan membujuk gue supaya ke supermarket. Erghhhhh. Gue mulai risih
dengan permintaan Atul itu, dengan tampang setengah ikhlas dan senyum yang
sangat terpaksa, gue akhirnya mengiyakan permintaan Atul. Sebenarnya hari ini
gue capek banget, tugas dan kegiatan sekolah membuat gue butuh istirahat yang
cukup. Setelah mengganti seragam sekolah dengan pakaian rumah, gue berjalan
menuju garasi untuk mengeluarkan motor bebek.
“Kaaa
mau kemana? Fadel ikut dong”
“Ikut
aja, tapi jangan rewel, jangan bandel, jangan bacot, beli ice-creamnya satu
aja” Jawab gue sewot.
Setelah
memanaskan motor bebek yang bermodifikasi abu-abu putih selama 5 menit, gue
membuka gerbang dan membonceng mereka menuju supermarket terdekat. Atul di
depan dan Fadel di belakang. Malang, supermarket yang paling dekat dengan rumah
gue saat itu tutup. Untuk menuju supermarket yang lain harus menyebrangi jalan
raya. Nah dijalan raya biasanya ada cowok pake celana coklat, topi putih, rompi
hijau lengkap dengan sempritan dilengan kirinya, yup this is potlantas (polisi lalu lintas). Gue membalik motor dan
kembali ke rumah. Atul dan Fadel hanya diam membisu. Gue berencana pulang ke
rumah untuk ngambil helm karena takut ditilang. Bentar lagi hujan, langit yang
tadinya terang kini sedikit berubah menjadi gelap. Dengan kecepatan 60 km/jam
gue membalap motor, Atul dan Fadel hanya menggeleng ngelihat gue membalap motor
bebek itu bak Rossi kw 18.
“Ka
pelan2. Fadel mau terbang nih,” teriak Fadel sambil meluk erat perut gue.
“Del,
meluknya jangan erat2. Perut aku sakit tau,” gue mulai sewot.
“Iya
ka, ini meluknya udah erat.” Jawab Fadel nggak nyambung.
Gue
mendengus kesal, masih sibuk menarik gas motor. Supermarket masih jauh.
“Ka,
ada air jatuh dari langit dihadapanku eyaaa.” Canda Atul dengan polos.
“Diam
aja. Malah nyanyi. Pegangan. Fadel ada di belakang kan?” Tanya gue.
Fadel
tidak membuka suara, tapi tangannya masih melingkar diperut gue. Gue khawatir,
takutnya Fadel ketiduran. Fadel memang kebiasaan tidur dalam perjalanan,
makanya tadi gue agak ragu membawa Fadel. Gue mengubah kecepatannya menjadi 40
km/jam. Kali ini lambat sekali, siput lebih cepat jalannya daripada motor gue.
Yang dikatakan Atul benar, ada air jatuh dari langit. Gerimis. Gue harap,
gerimisnya nggak deras dan sampai di supermarket tepat waktu. Gue menggerutu
dalam hati. Perasaan gue mulai kacau. Jogjakarta sore itu padat. Suara klakson
berbunyi di mana-mana. Macet. Gerimis dan lupa bawa mantel. Supermarket masih
jauh. Fadel ketiduran. Bensin mulai error.
Uang pas-pasan. Sepaket, gue makin panik. Suara sempritan potlantas membuat gue
agak legah. Seorang bapak tepat di samping gue berhenti dan membuka kaca
helmnya, ngingetin gue supaya hati-hati karena Fadel tidur di belakang.
Tadinya
yang hanya gerimis sekarang berubah menjadi hujan, apaan berubah macam
porengers aja hehehe *ketawa garing*. Dengan perlengkapan seadanya, gue menepi
di emperan toko. Gue mematikan motor dan membangunkan Fadel. Gue sempat pusing
memberikan jaket snoppy yang gue kenakan kepada siapa, Atul atau Fadel. Supaya
seimbang dan nggak ada yang iri, gue nggak memberikannya kepada siapapun. Hujan
makin deras. Gue takut adik gue kenapa-kenapa, tapi saat gue berbalik arah,
jrengggg Atul & Fadel malah ke-enekan main hujan-hujan.
“Kak
kalau di rumah gapernah main hujan2. Sekarang aja mainnya.” Ucap Fadel.
“Iyaa
kak, mumpung mama papa lagi ga ada.” Atul menambahkan.
Yekali
mama dan papa nggak ada. Gue hanya bengong melihat kedua kurcaci itu. Setelah
terdiam cukup lama, hampir lupa, tujuan pertama gue bukan untuk main
hujan-hujan tapi beli ice-cream untuk adik gue dan pulang ke rumah dengan cepat
dan selamat.
“Dell
Tulll, jangan main hujan2, entar sakit. Gue yang dimarahin sama emak,” tegur
gue sambil merapikan rambut yang berantakan.
“Jadi
beli ice-cream ga?” Gue bertanya lagi.
Lagi-lagi
mereka hanya menoleh sebentar dan balik lagi main hujan-hujanan. Tiba-tiba
genangan air semakin banyak, Jogjakarta sore itu semakin padat. Lebih padat
sebelum hujan deras turun. Gue makin panik, kali ini gue lebih tegas kepada
mereka berdua.
“Berhenti
ga? Kalau nggak, gue yang berhenti!!!” Gue mulai sewot.
Dengan
sigap dan lincah, Atul dan Fadel melompat ke atas motor. Kalimat barusan
manjur, mereka berdua tidak mengerti kalimat yang gue lontarkan barusan. Motor
gue nggak bisa bunyi, takutnya tuh motor bensinnya habis, seandainya bensin
bisa diganti dengan air maka jarum bensin yang tadinya di samping huruf (E)
sekarang berada diatas huruf (F), gue bergumam dalam hati. Lamunan gue buyar
saat ada seseorang yang berteriak “Banjirrrrr”. Belum cukup lama gue sadar dari
panik sekarang makin panik. Kepanikan gue menjadi panik kuadrat plus 2. Gue
pusing mau nyembunyikan Atul dan Fadel di mana, makanya jadi adik jangan
gede-gede, entar narohnya susah. Gue berpikir keras sedangkan mereka berdua
malah merengek minta ice-cream.
“Ka,
kita udah sejam dijalan, tapi belum dapat ice-cream.” Rengek Atul.
“Iyanih
ka. Supermarketnya di manasih? Besok suruh pindah aja didepan rumah biar
belinya cepet,” tambah Fadel nggak kalah rewel.
“Mindahin
nenek lu peyang. Lukira supermarket itu punya emak lohh?” Jawab gue kesal.
“Hm
Fadel baru tau, kalo supermarket yang itu punya mama kita hehe.” Fadel
cengengesan.
“Diem
nggak luu, kalau enggak... belum sempat gue melanjutkan kalimat itu buru-buru
Atul & Fadel melanjutkannya “Aku yang diem” tampang muka polos. Gue
cengengesan sendiri.
Motor
gue nggak mau bunyi, gue makin panik. Untung ada seorang bapak yang tidak
menyebutkan identitasnya sedikitpun telah membantu gue menghidupkan motor yang
sempat vacum beberapa menit karena kedinginan. Kini formasinya berubah, tadi
1:1:1 sekarang tetap 1:1:1. Terus yang berubah apanya? Yang berubah hanya
tempat duduk mereka berdua saja, Fadel
yang tadinya di belakang pindah di depan, dan Atul yang tadinya di depan kini
semakin di depan udeh cocok jadi teman duet Komeng buat iklan Yamaha ‘Semakin
di Depan’. Hujannya masih stabil,
langitnya masih nangis. Entahlah apa yang membuat langit nangis sore itu,
mungkin karena langit minta dibelikan ice-cream tapi supermarket dekat rumah
langit juga tutup.
Kecepatan
motor gue hanya melaju 20 km/jam, harus hati-hati soalnya jalanan sangat licin.
Hujan nyambar mengenai mata, mata gue perih. Gue menyuruh Atul & Fadel nutup matanya biar nggak kena air hujan, tapi
bukan adik gue namanya kalau yang diperintahkan (A) yang dilakukan (B). Gue
hanya geleng-geleng kepala. Sebentar lagi sampai di supermarket tapi dussss, motor gue mati di tengah jalan.
Kali ini bukan bensinya yang abis, tapi businya yang terganggu karena menyerap
air terlalu banyak. Untuk yang kedua kalinya gue menepi di pinggir jalan.
Karena
udah ngaak kuat dengan keluhan Atul & Fadel, akhirnya kita bertiga memilih
berjalan dan meninggalkan motor di depan toko yang udah tutup. Dingin. Hawanya
benar-benar menusuk. Akhirnya sampai juga. Saat hendak ingin memasuki
supermarket, Atul & Fadel melihat penjual ice-cream di pinggir jalan.
Mereka berdua menarik tangan gue menuju ke penjual es tersebut. Sontak gue
kaget, saat supermarket udah di depan mata, mereka berdua memilih untuk meninggaklkannya
begitu aja. Kalian berdua tidak setia, walaupun kutau ice-cream yang ini lebih
enak dari yang itu. Wets, Fatin KW 2 coy kalau dilihat dari Monas, wkwk. Dengan
berat hati dan senyum yang sangat manis tapi lebih manis lagi kalau tidak
terpaksa gue menuruti kemauan dua kurcaci itu.
“Bang
berapa bang?” Tanya gue saat sampai di depan penjual es di pinggir jalan.
“Berapa
apanya de?” Penjual esnya balik nanya.
“Esnya
bang, berapa? Jualan es kan?”
“Iya
jual non. Tapi udah habis. Diborong sama tuan yang disebelah sana.” Sambil
menunjuk tuan yang memakai baju ciri khas Jepang.
Kecewa.
Gue, Atul & Fadel kembali menyebrangi jalan menuju supermarket tadi. Gue
tidak henti-hentinya ngoceh sepanjang perjalanan saat nyebrang. Ujung-ujungnya
kembali ke supermarket yang tadi.
“Mau
rasa apa? Ambil cepet, terus bayar baru pulang.”
“Ka,
udah gamau ice-cream nih. Masa iya dingin-dingin minum ice-cream, cocoknya itu
makan mie pangsit sambil minum teh hangat kak.” Jawab Fadel tanpa merasa
bersalah.
“Iya
ka, aku setuju dengan pendapat Fadel. Entar giginya ngilu lagi minum ice-cream
dingin-dingin gini.” Atul yang sok dewasa ikut menambahkan.
Kamfret!
Rasanya saat itu juga gua pengen kubur hidup-hidup mereka berdua. Dengan sabar
dan tetap tersenyum paksa, gue bertiga jalan lagi menuju penjual pangsit yang nggak
jauh dari supermarket tersebut. Lumayan banyak orang yang berteduh di warung
‘Datang Lagi’ sore itu. Gue bertiga masuk dan milih tempat duduk yang paling
nyaman. Kali ini gue nggak akan lolos dari kejahilan kedua kurcaci itu.
Buru-buru gue mesan 3 mie pangsit dan 3 teh hangat. Hanya butuh waktu 10 menit
untuk menunggu pesanan datang, nggak perlu berhari-hari karena pengiriman bukan
lewat JNE. Gue, Atul & Fadel makan
dengan lahapnya sambil menunggu genangan air surut. Saat gue ngecek handphone
ada beberapa panggilan nggak terjawab dari emak dan bapak secara bergantian.
Paling juga yang dicariin Atul sama Fadel, ucap gue dalam hati. Setelah
membayar makan pada kasir, gue bertiga ketempat markir motor tadi. Gue kaget
melihat orang berkerumunan seperti semut di tempat gue markir motor.
“Ada
apaan pak? Motor mio yang tadi parkir di sini di mana?” Tanya gue kebingungan.
“Tadi,
genangan air sampai sini nak. Makanya motor yang abu-abu putih itu diangkut
ketempat lain.” Jelas panjang lebar bapak tua berjanggut hitam itu.
Keringat
dingin yang bercucuran dari kepala sampai kaki membuat gue tambah kedinginan,
sebenarnya bukan keringat dingin sih melainkan air hujan. Tapi kali ini serius,
gue takut setengah rindu seperti lagu D’masiv aku rindu setengah mati. Atau
seperti lagu Vierra, aku takut mio pergi mio hilang mio sakit aku ingin mio di
sini di sampingku selamanya. Gue takut terjadi sesuatu pada motor itu. Atul
& Fadel pun ikut merasakan kepanikan gue meskipun mereka hanya sok merasa.
Gue bertiga menuju tempat yang ditunjukan bapak berjanggut hitam itu. Alhamdulillah
motornya masih di sana, tidak sedikitpun terlihat lecet dari bagian motor
tersebut.
Setelah genangan air surut, gue milih untuk
pulang, tapi karena magrib tlah tiba seperti lagu Tasya Kamila, magrib tlah
tiba, magrib tlah tiba hatiku gembira. Gue bertiga memutuskan untuk menunggu
shalat magrib selesai, Fadel ikut shalat jama’ah di mesjid, gue dan Atul
menunggu di teras mesjid.
Brummmm... Brum... ternyata perjalanan cukup
jauh. Selamat datang Kompleks Secapa Polri ucap gue, Atul, Fadel secara
bersamaan. Gue udah nyiapin mental fisik dan batin kalau-kalau gue kena
marah(?) tapi entah ada angin apa yang menerpa hati mama dan papa gue tiba-tiba
baik banget. Gue langsung menuju kamar dan satu lagi sebelum gue benar-benar
memejamkan mata, ternyata ada tugas Sejarah yang belum gue kerjain. Omaigattt,
kata gue seraya menjatuhkan badan dikasur dan tertidur pulas. Melelahkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar