Semua
tangisanku aku tumpahkan dalam tulisan ini. Dulu sewaktu aku masih duduk
dibangku Sekolah Dasar aku hanya menumpahkan tangisan, rasa haru, bahagia,
kecewa, dan sebagianya kedalam buku diary. Tapi seiring berjalannya waktu dan
teknologi sudah canggih, perasaan itu bisa dituangkan kedalam bentuk apapun,
curhat difcabook, twitter, line, wechat, kakao talk, bahkan diblog.
2 September 2013, 17:55.
Aku
hanya menyaksikan dua orang berlawan jenis sedang beradu mulut didepanku,
mereka terikat suatu hubungan dan tidak selamanya hubungan itu berjalan lurus.
Yap, hari itu perempuan dan laki-laki itu tengah mengalami sebuah masalah. Aku
gelisah bukan main sambil melirik jam di handphoneku, sebentar lagi magrib akan
tiba. Dengan mengisi kekosongan aku memanfaatkan aplikasi camera 360 di hapeku
untuk berfoto, hm lumayan banyak album yang tercetak. Koridor sekolahku sudah
sangat sepi, hanya terdengar beberapa suara pantulan siswa yang masih mempunyai
beberapa urusan di sekolah, aku salah satunya.
Saat
aku menoleh ke kanan aku melihat seorang cowok yang masih lengkap dengan
seragam sekolahnya, baju osisnya tidak terlihat karena tertutup jaket biru muda
dan tua. Semakin dia melangkah ke arahku semakin aku mengenal sosok cowok itu.
Jam tangan warna merah melingkar ditangan kirinya, tubuhnya tegap, dia berjalan
sedikit agak aneh. Dan..
“Yaaaaa,
ngapain? Knp belum pulang?” sapa cowok berjaket biru itu.
“Hmm, aku lagi
nungguin Ulul didalam. Kamu sendiri?” tanya aku.
Aku sudah duga cowok itu si Alif. Percakapan
pun terjadi antara kami berdua, saat Alif hendak memasuki kelas XII IPA 4 dia
tersontak kaget.
“Heh? Kenapa
Lif?” tanya aku bingung.
“Oh, Ulul di dalam ya? Ko gabilang sih? Tanya
Alif balik menyalahkan aku.
“Paandah, kan
aku sudah bilang lagi nungguin Ulul didalam, haiiiihh kamu pasti lagi
memikirkan sesuatu ya Lif? Mikirin apa?” tanyaku asal.
“Ah, gapapa
kok:p”.
“Eh kamu sama si
Rita kenapa? Saling cuek? Kamu sih Lif, ko bisanya sih suka sama Rita? Udah tau
Rita temenen ama si Sarah-,-“.
“Haha gatau deh,
aku sih pernah deket sama si Rita pas di Lampung dulu, mungkin karena rasa
bosanku sama Sarah aku malah mendekati Rita(?)”.
Aku hanya
terdiam mendengarkan cerita Alif, jujur ya teman kelasku ini memang agak sediit
gagal dalam hal percintaan. Dia memang pandai memikat hati sederet wanita di sekolahku,
jurus jitunya adalah gombalan maut. Dalam film 5 cm disebut, Khalil Zafran tapi
buat aku Khalil Alif. Saat Alif bercerita tentang hubungannya dengan Rita,
hatiku sedikit merasakan sesuatu yang berbeda, ada rasa kecewa, sedih dan marah
yang menghampirinya, aku berusaha tertawa didepan Alif. Ulul mungkin masih lama
dengan urusannya, dia keluar menghampiri aku dan menitikkan air mata didepanku
dan Alif.
“Kenapa Lul?”
tanya aku seraya merangkulnya.
Ulul hanya diam,
dia kembali masuk kedalam kelas. Suara radio mesjid sudah terdengar, anak
asrama sekolahku sudah sibuk mempersiapkan diri menuju mesjid. Aku dan Ulul
memutuskan pulang dan mengantar Ulul ke halte. Handphoneku berdering, Rita
Arista yang terpampang dilayar handphoneku, aku mengangkatnya dan....
“Lu
dimana?” tanya Rita diseberang sana
“Jalan.
Knp?” jawabku singkat
Hal
itulah yang membuat aku benci dengan diriku sendiri. Aku memang orangnya
moodyan banget. Percakapan singkat di telfon barusan menyimpulkan aku harus
menjemput Rita di rumah teman aku. Dalam perjalanan pulang, aku dan Rita
memilih diam. Aneh sih tapi memang tidak ada topik yang asik untuk dibahas.
Aku
menangis sejadi-jadinya, aku membalap motor matic yang aku pakai melampiaskan
kekecewaanku, aku sangat kecewa, sangat kecewa, sangat kecewa. Aku benci dengan
semua ini. aku memang bukan orang yang pandai dalam hal percintaan. Tapi
setidaknya, ah sudahlah. Percuma saja menceritakan semuanya. Aku memang bukan
teman yang cocok untuk kau jadikan tempat curhatmu, tempat berbagi suka dan
dukamu. Kau pernah bilang aku yang terlalu sibuk dengan duniaku sendiri, itu
karena hanya untuk mengisi kekosongan saja. Aku memang bukan orang yang tepat
untuk kau mintai saran, aku memang bukan orang yang tepat untuk kau mintai
solusi dan menumpahkan keluh kesalmu. Aku hanya seperti teman yang singgah saat
aku butuh, yang parkir semaunya.
Beberapa tahun yang lalu saat
dunia begitu kejam, kau mampu menjadi tempat bersandar untuk aku, kau mampu
menjadi penopang tiangku kala aku rapuh. Aku sadar, kau kurang baik apa lagi
sama aku? tapi aku yang bodoh. Saat kau berkata bohong aku masih sanggup
percaya dengan kata-katamu yang melontarkan kata “Sumpah Demi Allah”. Kadang
manusia terpengaruh dengan hal yang sepele seperti akta-kata itu, kata-kata
bullshit yang diucapkan oleh orang yang suka berbohong. Aku benciiiiiiiiiiiiii!!!...
aku kecewa teman!!! Aku merasa gagal menjadi seorang teman untuk kamu, entahlah
itu terserah kamu.
Mungkin kalian (re: para
pembaca) tidak tahu letak kekecewaanku di mana. Yah, itu karena kalian tidak
berada posisiku, kadang kita sok mengerti berada diposisi orang tapi tidak
merasakan apa yang dirasakan orang tersebut, sudahlah kalimat barusan sungguh
membingungkan. Kembali kecerita tadi. Aku tidak ingin menceritakan bagaimana
mereka berdua (re: Alif&Rita) bisa terikat satu hubungan, backstreet lebih
tepatnya.
Kalian pernah berteman,
bersahabat, bahkan teman yang tadinya biasa saja kalian sudah anggap saudara
sendiri selama 4 tahun lamanya? Aku salah satunya, hiks. Tapi saat permasalahan
itu aku merasa menjadi teman yang gagal. Sekarang aku mau bertanya pada kalian
(re: para pembaca) baagaimana perasaan kalian jika kalian mempunyai teman 4
tahun tersebut mempunyai suatu masalah tapi tidak menceritakan pada kamu? Sakit
hati, kecewa, atau bahagia? Aku memilih dua, aku sakit hati & kecewa. Saat
Rita mempunyai teman dekat seperti aku, kenapa dia tidak menceritakan
masalahnya kepada aku? kenapa sama orang lain?
“Hm, sebenarnya aku mau menceritakan
masalah ini sama kamu, kamulah orang pertama yang akan aku ceritakan, tapi
mengingat kamu akrab sama Sarah jadi aku memilih cerita sama yang lain. Maaf yaaL” jelas Rita.
Aku hanya mengangguk, kecewa sih
tapi mau diapa lagi, nasi sudah berubah menjadi bubur. Aku menangis
sejadi-jadinya. Yang lebih menyakitkan lagi, dia lebih takut kalau Alif marah
daripada aku. hehe tausih, Alif itu pacar Rita tapi begitulah anak remaja jaman
sekarang :D menyakitkan bila akan diceritakan kembali!!