Selasa, 24 Desember 2013

Bab 3 (225 Menit dalam Ketakutan)




            Ketakutan ini melebihi ketakutan dari apapun. Misalnya, lo dikejar anjing di sebuah gang yang kecil dan sempit, gang ini hanya cocok dengan ukuran badan lo dan anjing itu, anjing mengonggong terus mengejar lo, lo lari terbirit-birit seperti menolong orang yang kecopetan. Maka di satu sisi anjingnya akan bernyanyi gini: smakin kukejar smakin kau jauh, tak pernah letih tuk dapatkanmu terus berlari hinggak terjatuh, terjatuh lagi ahhhh. Dengan sigap dan pedenya lo ngebalas lagu yang dinyanyikan anjing tersebut seperti ini: aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi, aku tenggelam dalam lautan luka dalam, aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang (putar musik lalu nyanyi).
            Gue dengan posisi yang masih di depan layar notebook terus ngotak-ngatik keyboard notebook, gue sibuk dengan sesuatu.
            “Rii, besok kimia 3 jam ya?” Tanya Lai dengan komik ditangan kirinya.
            “Yap, kenapa?” Tanya gue balik.
            “Katanya besok sistem tunjuk-menunjuk, ih takut.”
            “Lu kira mau ke neraka. Pake takut segala.”
            Entah apa yang membuat gue dan kawan-kawan takut ngadapin pelajaran kimia. Besok, hari Sabtu bakalan jadi hari neraka setiap minggunya tapi jangan sampai neraka sungguhan deh. Jam pertama di isi oleh fisika 3 jam, kedua biologi 3 jam, dan terakhir kimia 3 jam. Hello Exact Day! Setiap malam Sabtu, gue bakalan mojok di kamar dan ngeluh “Kenapasihhh dulu gamasuk kelas IPS, duh bikin ribet aja. Idup udah ribet lagi” (tangan dikepala sambil ngacak-ngacak rambut). Itulah keluhan gue tiap malam Sabtunya, dan malam Minggu gue bakal bilang gini “Alhamdulillah, ternyata gue bisa lewatin Saturday. Omg, kirain hari Sabtunya gue udah nyampe di neraka” (senyum bak seorang pemenang di depan cermin). Faktanya, kimia itu ribet. Sebenarnya sih simple kalau kita mengerti tapi kayaknya gue nggak pernah ngerti dengan pelajaran tersebut, ditambah guru yang ngajar sedikit killer dan suka nunjuk-nunjuk seusai pembelajaran, nah gue itu salah satu korban setiap Jum’at dan Sabtu (pray for ARIL).
            Sampai di rumah gue langsung menuju kamar di lantai 2, hari ini cukup menguras tenaga. Gue capek bukan main, sebelum gue menghempaskan tubuh di tempat tidur, gue merogoh-rogoh ransel mencari sesuatu dan iPhone pun keluar. Gue membuka salah satu sosial media berbentuk burung, eits jangan fiktor burung yang gue maksud di sini bukan burung itu kok tapi twitter, lihat aja gambarnya bentuk burung, udah-udah nggak usah bahas burung(?).
Gue menekan tombol tulis tweet “DucCHh c4p3k n1cHh. bR pLnG cKuLah, b0b0 c4nt1k dulueh ah” Begitulah kebiasaan gue tiap hari. Etapi siapa bilang gue belum sembuh dari penyakit alay, gue udah sembuh loh, buktinya nama facebook gue udah diganti dari (4r1An4 5u5aH M0v3 0N) diperbaharui menjadi (Ariana Udah Bisa Move On Dari Doi Karena Doi Nggak Pernah Peka) kurang hitz apalagi coba?.
Malam ini, gue harus menggunakan 3 jurus yang udah nggak lazim dalam kehidupan gue. Yang pertama “The Power Of Kepepet” gue harus ngedit beberapa foto untuk dijadikan sampul album dalam kegiatan pameran nanti, belum lagi gue kudu belajar kimia untuk ngadapin tivi besar di kelas (baca: papan tulis). Kedua “The Power Of Doa” di samping berusaha, gue juga harus berdoa. Gue pernah baca di twitter ada yang ngetweet gini (usaha tanpa doa hanya sia-sia). Dan yang ketiga “The Power Of Pasrah” nah yang ketiga ini kalau gue benar-benar nggak sanggup ngerjain tugas dan nggak ada keajaiban yang datang maka gue hanya pasrah dengan nasib. Gue percaya, Allah nggak pernah berikan cobaan kalau hambah-Nya nggak sanggup melewatinya. Gue yakin sanggup melakukan semuanya. Sebelum menyalakan notebook, gue update status lagi di twitter (Cemumut ea) kali ini gue ngetweet dengan huruf yang nggak bolak-balik, gue capek mengubah gaya tulisannya dari besar-kecil-besar-keil. Dasar.
            Setelah selesai memindahkan beberapa foto dari kamera ke notebook, gue milih beberapa foto yang unik, mulai dari candid sampai yang bukan candid. Soal editing, gue nggak  jago-jago amat, gue masih harus banyak belajar dari editing foto terkenal. Satu setengah jam lamanya gue berkutat dengan notebook. Finish. Gue tersenyum puas di depan layar notebook. Setelah senyum-senyum selama 2 menit gue teringat kalau besok hari Sabtu, exact day men exact day! Gue matikan notebook terus ngambil iPhone, gue ngambil iPhone bukan buat ngecek apakah ada sms masuk dari pacar atau gebetan, yang ada gue hanya di sms bendahara kelas “Rii, besok lunasin ya bayarnya. 15 rebu”. Gue membuka situs jejaring sosial berbentuk burung dan update (LAGI) ‘Akhirnya, selesai juga. Skrg siap2 belajar kimia, yakin arisan gue pasti naik ngadapin tipi besar’. Alhamdulillah gue udah berubah, nggak 4L4Y lagi, mungkin karena faktor lelah.
Seperti biasanya, gue mojok dulu di kamar dan ngeluh ini itu, uwooh gue banget. Saat gue hendak ngambil buku catatan kimia dan pensil tiba-tiba lampu kamar kedap-kedip, gue harap bukan hantu Insidious yang datang bertamu di kamar. Perlahan gue ngambil iPhone, kali ini gue nggak update statuts (tumben bgt) tapi gue manfaatin sinar lampu dari iPhone untuk memperbaiki lampu yang lagi koslet. Tapi sayang, itu bukan koslet melainkan mati lampu satu kompleks. “Kampret. Pas catatan kimia udah di tangan, kenapa jadi mati lampu gini, PLN nggak asik bgt. Ngajak ribut.” Gue ngunci pintu kamar, nutup horden yang belum rapat, dan benar-benar menghempaskan tubuh ke tempat tidur.
            Sepertinya semalam gue mimpi indah. Gue  bangun dari tidur dan merapikan tempat tidur (ini tumben banget), mandi, pakaian, sarapan terus berangkat sekolah. Di meja makan gue selalu bertemu dengan kedua kurcaci menyebalkan Fadel dan Atul, Bang One jarang bangun pagi, bangunnya siang mulu. Hari ini gue berangkat bareng papa, tentunya juga bersama kedua kurcaci yang ribet itu. Sampai di depan gerbang sekolah, gue lihat Lai berjalan dari arah yang bersamaan.
Kelas pertama di isi oleh fisika. Tapi tumben banget hari ini Pak Gunawan belum masuk juga. Mungkin beliau telat atau kena macet di jalan. Anak-anak KERABAT (Keluarga Besar Ipa Empat) mulai gelisah. Gelisah bukan karena Pak Guna nggak datang, melainkan mereka gelisah kalau Pak Guna datang 10 menit sebelum istirahat. Soalnya tuh guru manfaatin waktu sebaik mungkin, banget. Anak-anak kerabat mulai jaga-jaga di depan pintu kalau-kalau Pak Guna datang tiba-tiba. Kerabat banget ya!
“Pak Guna nggak dateng. Katanya ada urusan keluarga,” Rudi sang ketua kelas masuk bawa kabar gembira buat kerabat dengan muka datar.
Yeahhhhhhh, kelas langsung jadi heboh.
“Tapi, pak Yusuf bakal ngambil jam pelajaran pak Guna 1 jam. Jadi hari ini kimia 4 jam,” sambung Rudi Tabuti (eh salah) tapi Rudi Terbukti (ini serius) .
Yeahhhhhhh, kali ini masih heboh tapi heboh nangis satu kelas. Wkwk.
Dengan tampang lesu, gue dan kerabat hanya nerima nasib kurang baik itu. 20 menit lagi Pak Yusuf bakalan masuk dan ritual tunjuk menunjuk akan terjadi. Sekarang anak kerabat siap menghadapi 135 menit dalam ketakutan. Tapi kali ini beda, 135 menit ditambah satu jam = 45 menit. Jadi 180 menit atau 4 jam, 4 jam men 4 jam. Gue hanya bisa pasrah. Kali ini jantung gue berdetak lebih kencang lagi, bukan anjing lagi yang ada di gang itu tapi buaya, kodok, dinosaurus, semut, lalat, elang bahkan gajah sekalipun, kan jadinya kebun binatang, lihat kebunku penuh dengan binatang ada yang amfibi dan ada yang mamalia hahaha (ketawa garing muka papan).
Suara langkah sepatu Pak Yusuf udah terdengar, kerabat hapal betul suara ketukan sepatu guru kimianya itu, mantep. Masuk dengan senyuman khasnya. Siapa yang tahu kalau saat itu sebelum Pak Yusuf masuk, jantung anak-anak kerabat berdetak lebih cepat dari detak jantung normalnya. Kali ini Pak Yusuf terlihat lain dari yang lain, nggak ada sistem tunjuk-menunjuk saat PBM berlangsung. Anak-anak kerabat mulai heran, mereka saling tatap-tatapan satu sama lain. Hening. Nggak ada suara di kelas itu.
“Tolong buka halaman 145. Kalian berjumlah berapa dikelas ini?” Pak Yusuf membuka suara.
“30 pak!!!!”
“Disini ada 32 soal, kalian kerjakan menurut nomor absen kalian. Setelah itu kalian jelaskan pekerjaan kalian ke teman yang lain. Saat saya masuk, satu per satu saya suruh kalian kerjakan ke papan tulis. Kalau teman kalian tidak mengerti berarti nilai kalian rendah. Intinya nilai kalian bergantung dengan teman kalian,” jelas Pak Yusuf panjang kali lebar sama dengan luas.
Hening. Anak-anak kerabat hanya menelan ludah pahit ditenggorokan.
“Saya mau keluar sebentar. Kalian harap tenang ya.”
            Pak Yusuf berlalu dari kelas yang dominan berwarna abu-abu muda itu. Tampaknya beliau ada urusan di luar. Anak kerabat mulai mengeluh ini-itu. Gue milih gabung dengan Anit, faktanya Anit itu pakar kimia di kelas. Setelah dijelaskan oleh Anit dengan seksama, gue kembali ketempat duduk lagi. Tapi belum lama, gue lupa lagi cara ngerjain soal yang dijelaskan Anit tadi. Kapasitas otak gue udah penuh, rasanya mau direfresh sebentar, terus diformat, lalu diisi lagi. Tapi sayang itu bukan flashdisk yang se-enaknya direfresh lalu diformat.
Karena bosan menunggu Pak Yusuf datang, gue bergabung dengan anak kerabat cowoknya, ternyata mereka lagi nonton film yang katanya The Series ‘Malam Minggu Miko’ film buat jomblo yang cocok dinonton saat malam Minggu tiba. Jangan sekali-kali nonton pada malam Jum’at, bukan apa-apa tapi judulnya akan berubah jadi ‘Malam Jum’at Miko’ dan itu kedengarannya mistis banget. Tiap malam Jum’atnya bakal nangkring di kuburuan buat nungguin jodoh yang cocok buat Miko.
            Kurang lebih 15 menit berlalu, Pak Yusuf tiba-tiba udah staycool di depan pintu. Beliau memegang perutnya dengan muka cemas, sepertinya beliau sakit perut. Satu persatu anak kerabat mulai menunduk dan berdoa, bukan menunduk karena takut ditunjuk melainkan mereka berdoa agar Pak Yusuf nggak mengajar dan pulang ke rumah beristirahat. Ekspresi muka anak-anak kerabat sangat lucu, ada yang sok santai tapi dalam hatinya udah greget takut ditunjuk, ada yang bolak-balik minta izin ke WC, ada yang nggak berani sama sekali natap papan tulis, ada juga yang mulutnya komat-kamit baca mantra, ada yang sengaja menjatuhkan pulpennya di bawah kolong meja lalu dipungut, dijatuhkan lagi, dipungut lagi begitu seterusnya. Gue dan Lai masuk kategori ‘Sok santai tapi perasaan nggak nyantai’
“Mungkin hari ini kalian beruntung. Saya mau pulang nak, perut bapak sakit, hari Jum’at depan bapak langsung tunjuk kalian naik ke papan tulis. Kalian belajar dulu, kalau ada soal yang tidak dimengerti tanyakan kepada teman kalian yang mengerti,” lagi-lagi jelas Pak Yusuf panjang kali lebar sama dengan lebih luas.
Hening. Anak kerabat nggak ada yang berani buka suara. Mereka  sok tertunduk lesuh ikut merasakan kesakitan Pak Yusuf padahal dalam hati mereka ada yang udah meneriakkan kata ‘YES.’ Setelah berpamitan, Pak Yusuf buru-buru meninggalkan kelas. Seketika juga ada anak kerabat yang mutar lagu We Are The Champion, benar-benar kerabat namanya. Anak kerabat menghelai nafas dalam-dalam. Mengucap syukur begitu hikmat, sampai ada yang mengambil air wudhu untuk shalat dhuhur dan berterima kasih pada Allah SWT padahal belum waktu dhuhur. Gue sebenarnya ingin lompat dari gedung sekolah sebagai tanda terima kasih gue kepada Allah SWT tapi mengingat gue masih jomblo jadi aksi mainstream tersebut gue batalkan.
Jam kimia masih ada 1 stengah jam, anak kerabat ada yang bosan karena nggak ada kegiatan, giliran ada guru ngeluh, giliran nggak ada malah kelas seperti kuburuan band. Untuk pertama kalinya mereka freclass pelajaran kimia. Benar-benar momen yang paling ditunggu-tunggu anak kerabat, kerabat wajib mencatat detik-menit-jam-hari-tanggal-bulan dan tahun ini (ksip ini terlalu dramatis).
“Panggilan buat semua guru yang berada di dalam ruangan guru, perpustakaan, kelas, kantin, penjual bakso, mushallah, maupun WC diharapkan menuju ruang rapat sekarang. Ada rapat penting yang akan kita bicarakan,” terdengar suara Pak Agus dari speaker yang terletak disudut jendela atas kelas Ipa Satu. Pak Rustam guru biologi yang udah berada di anak tangga yang kesepuluh hanya tersenyum melihat siswanya bahagia. Kali ini lagu We Are The Champion bukan terdengar di kelas Ipa Empat aja melainkan seluruh penjuru koridor anak kelas sebelas. Gue berdehem dan mendecak kesal “Kalau tau gini mending gausah kesekolah aja.” Makanya jangan jomblo Rii *eh. Hari ini surga dunia khsususnya buat anak kerabat, baru kali ini merasakan bahagia yang luar biasa, duh kasihan mereka.

Bab 2 ( Keluarga Terhebat Seperti Singa )




Tak perlu tunggu hebat untuk berani memulai apa yang kau inginkan...
Hanya perlu memulai untuk menjadi hebat raih yang kau impikan...
Seperti singa yang menerjang semua rintangan tanpa rasa takut yakini bahwa kamu kamu kamu terhebat...

Keluarga gue ibaratkan SINGA, tapi jangan sampai singa beneran deh. Papa gue sebagai kepala keluarga udah sebisanya lindungin kita dari kejahatan. Beliau orang yang nggak pantang nyerah sama masalah, ngedukung anaknya buat lakuin hal yang menurut beliau positif, beliau gemar banget ngumpulin suttlekock buat dipake main depan rumah. Pernah kita keluarga ‘SINGA’ diajak papa jalan-jalan, gue ingat betul hari itu hari Minggu, kita semua udah siap di dalam mobil. Papa dan mama di depan, Bang One di jok belakang dan gue duduk dijok tengah bertiga bareng Fadel & Atul. Gue masih ngantuk banget, mata gue terasa berat untuk dibuka. Gue lihat sekeliling pas udah nyampe di Gedung Olahraga Tolakbala. Gedungnya masih sepi banget, papa nyuruh kami semua turun dari mobil. Perlahan papa gue masuk kedalam dan lihat keadaan sekeliling, beliau minta izin masuk sama yang jaga dipos GOR itu. setelah bercakap ringan dengan penjaga posnya, papa gue ngajak kita masuk ke dalam GOR. Stuttlekock tersebar di mana-mana, papa nyuruh kita jongkok, ngendap-ngendap dan mungutin tuh bulu satu-satu. Gue, mama, Bang One, Fadel dan Atul lakuin apa yang papa suruh. Jongkok lalu ngambil bulu. Sekitar 20 stuttlekock pagi itu kami bawa pulang. Papa gue gembira banget, sampai di rumah beliau bilang gini “Yang ngantuk bisa lanjutkan tidurnya. Kecuali One. Tidur di atas kasur ya” Bruk, gue nutup kencang pintu kamar gue saat itu. Tapi beliau malah sibuk ngumpulin tenaga buat main badminton depan rumah, Bang One hanya pasrah dijadikan lawan sama papa. Nasib anak cowok sih.
Gue lupa, papa juga suka banget baca koran dan nonton komedi putar gitudeh. Beliau ngefens berat dengan komedi The Series yang berjudul ‘Bajaj Bajuri’ ia hampir hapal semua episode film tersebut. Beliau pernah berinisiatif ke Jakarta hanya untuk ketemu Mat Solar, komedian andalan beliau. Sekarang beliau rada ngefens dengan Caisar pemilik joget ‘keepsmile’ itu bahkan beliau kalau joget keepsmile beda tipislah dengan Caisar.
Pindah ke mama, gue pusing nyeritainnya harus dari mana. Sekilas ciri-ciri mama gue, perempuan (tolol, semua mama juga perempuan keles), baik, berhati ibu banget, sayang sama anaknya, dan mama dengan title ‘ratu gosip’ nya tidak bisa hilang dari ciri-cirinya. Entah kenapa mama gue bisa jadi ratu gosip sekompleks Secapa Polri, pokoknya dia doyan banget bergosip, selain nonton tivi, searching internet buat nyari berita terbaru, bahkan pernah terlintas dibenaknya, beliau mau bersahabat baik dengan Veni Rose, host infotaiment Silet.
Gue paling benci sama mama kalau lagi nyalon, belanja, dan arisan. Hari Jum’at lalu mama gue lagi di salon ‘Penuh Cinta’ motong rambut, gue disuruh jemput karena katanya udah selesai. Sampai di sana, rambut mama baru di potong. Gue bosan nungguinnya. Mama bilang gini “Kamu potong rambut juga Ri, rambutnya udah kepanjangan”. “Oke ma” jawab gue asal. Akhirnya gue sama mama lagi nikmatin masa-masa terakhir bareng rambut kita berdua.
Selama proses pemotongan rambut gue nggakk pernah lihat cermin, gue takut, sebenarnya bukan takut sih tapi lebih ke surpricenya saja, sapatau setelah potong rambut gue mirip Ariana Grande yang actress, singer, and songwriter from American. Dan gue Ariana Al Jazilah yang culun, cupu, cupcupbida dari Jogja asli.
Selesai. Hal pertama yang gue lakuin bersihin rambut yang masih menempel di sekitar baju, pakai bedak kasar yang digunakan sehabis potong rambut, terus nyisir rambut baru, lalu gue lihat ke cermin dan yassalam gue lebih mirip ‘Anak Autis yang Habis Manis Sepah di Buang’. Jelek abis. Gue baru ingat, gue pernah baca artikel tentang ‘Tips Menghindari Potongan Rambut yang Salah’, salah satunya ‘Jangan Alihkan Pandangan dari Cermin Saat Proses Pengguntingan Rambut’ nah tadi gue? Gue hanya tersenyum ikhlas dengan potongan rambut ini. Gue sok senang padahal asli gue pengen nelan nih tukang cukur sekarang juga. Habis itu gue keluarkan lagi lewat pup.
Gue alihkan pandangan ke mama, mama tampaknya bahagia banget dengan rambut barunya yang sekarang. Beliau tambah cantik, rambut yang tadi sepunggung sekarang udah sebahu. Kata beliau sendiri, beliau bakal PD ke mana-mana apalagi saat bertemu dengan teman arisannya dan teman bergosipnya. Gue sedih kalau lihat mama lagi sedih tapi gue bakal lebih-lebih senang kalau mama lagi senang. Tapi sekarang kebalik, mama bahagia gue sedih. Gue nyesal mengiyakan permintaan mama, besok gue nggakk berani ke sekolah. Gue bakal make helm terus selama Proses Belajar-Mengajar Berlangsung, bukan cuma itu gue pasti bakal jadi bahan ejekan Bang One selama di rumah. Plis, kalau boleh bilang sama mama gue mau bilang “MA, TUKANG CUKURNYA NGGAKK USAH DI BAYAR!!” tapi sebelum itu mama lebih dulu ngasih uang sepuluh ribu ke tukang cukurnya. Selamat yaw.
Lanjut ke Bang One, duh agak panjang nih. Namanya bukan One, nama aslinya itu Gaswan Al Ghifari, orang di rumah gue manggilnya Wawan. Teman-temannya juga manggil Bang One dengan sebutan Wawan, tapi karena kepanjangan kadang gue manggil dengan sebutan ‘WAN’ aja, temannya terlalu kreatif mengubah nama WAN menjadi ONE karena menurut teman-temannya SATU. Gue ketawa-ketawa aja pas Bang One nyeritaiin hal itu sepulang dari sekolah, waktu itu dia duduk di bangku kelas enam SD.
            Kita orang di rumah setuju-setuju aja kalau manggil bang Wawan jadi Bang One, sekarang aja manggilnya gitu, satu keluarga malah. Bang One ini punya kebiasaan unik, abang gue ini hobby banget yang namanya sikat gigi. Setiap bepergian ia nggakkk pernah lupa bawa sikat dan pasta gigi di tempat kecil yang ia siapkan khusus buat benda kesayangannya itu. Katanya “Gigi adalah jendela muka kita Rii. Kalau kita bicara 80% orang merhatiin kita bicara, dia lihat stuktur gigi kita, bagus atau nggakk, bersih atau nggakkk, rapi atau nggakkk”. Koleksi sikat giginya banyak banget, tiap ada iklan sikat gigi terbaru dia usahain nabung buat beli tuh sikat gigi. Unik banget kan.
            Pernah suatu hari, keluarga SINGA akan menghadiri pernikahan keluarga dari papa di Bukit Tinggi. Saat itu kamar mandi di rumah hanya ada dua, tapi yang satu pintunya lagi dalam masa perbaikan jadi yang berfungsi cuma 1. Kita ngantri. Dari yang tertua dulu, setelah papa giliran mama, tapi mama saat itu sedang nyiapin sarapan pagi sebelum ke Bukit Tinggi. Gue teriakin Bang One nyuruh mandi tapi nggakkl ada jawaban, akhirnya gue suruh Fadel & Atul mandi. Gue ngerapiin barang yang akan di bawa ke sana, saat gue ngetuk pintu kamar mandi ada seseorang di dalam. Fadel bilang sih Bang One. Yaudah gue tungguin dengan sabar, 20 menit berlalu Bang One belum keluar juga.
            Gue memutuskan mengecek pakaian yang bakal gue pakai sebentar. Setelah 15 menit, gue turun lagi ngecek Bang One udah selesai mandi apa belum. Ternyata belum. Gue ketuk lagi pintunya, nggakk ada sahutan dari dalam. Jangan-jangan ia tertidur di lantai kamar mandi. Gue mendekatkan telinga ke pintu untuk mendengar apa yang Bang One lakukan sampai 35 menit di dalam kamar mandi, ternyata Bang One lagi gosok gigi. Lama banget. Gue yang udah nggakk sabaran pengen mandi teriak lebih kencang lagi “Weeeee bang. Gue ama mama belum mandi tau. Lo jangan nginep di dalam”. Percuma, Bang One juga nggakk dengar kok.
            Gue, papa dan mama berdiri di depan pintu kamar mandi, kesabaran gue udah di ujung tanduk. Mama gue yang udah bosan nunggu seperti cacing kepanasan menggedor-gedor pintu kamar mandi. Papa gue bakal ngelakuin hal yang menurut gue ‘bodoh’. Papa bakal dobrak pintu kamar mandi, masih baik kalau Bang One dalam keadaan normal, kalau udah nggakk waras setengah telanjang dia jilat lantai kamar mandi dan nyanyi-nyanyi nggakk jelas gue nggakk bakal bisa makan selama 2 hari 2 malam. Jijik gue ngebayanginnya.
            Bang One udah satu jam di dalam kamar mandi, gue nggakk habis pikir Bang One bakal bermalam di kamar mandi selama ini. Setelah ia keluar, ia mengibas-ngibas rambutnya yang masih basah, mulutnya berbau aroma pepsodent banget. Sepertinya ia numpahin pasta gigi ke dalam mulutnya sampai di telan (pas gue ngetik ini, gue muntah-muntah dan sempat koma beberapa menit). Bang One santai aja ngelihat gue sama mama yang belum mandi. Karena Bang One mandinya lama dan lelet banget, kita keluarga singa terlambat ke pesta pernikahan saudara papa. Setelah pulang dari Bukit Tinggi, papa menelpon tukang bangunan untuk membuatkan satu kamar mandi di kamar Bang One. Besok-besok gue mau tiruin cara Bang One biar bisa punya kamar mandi dalam kamar.
            Dua kurcaci gue yang paling hebat. Staynding applause dulu deh buat mereka berdua. Satu cewek, satu cowok, mereka berdua  sama-sama duduk dibangku sekolah dasar. Kelakuannya asli menyebalkan. Fadel ini anak ketiga dari 4 bersaudara, dia paling gampang terpengaruh dengan apa yang dia lihat dan dengar. Waktu itu kita sekeluarga lagi ke kebun binatang di Jogja, Fadel senang banget ke kebun binatang, katanya asik. Jangan-jangan dia punya spesies lagi di kebun binatang. Fadel paling suka sama zebra.
            Pas udah sampai di kebun binatang, Fadel langsung pergi ke kandang zebra yang berumput gitudeh, Fadel senyum-senyum kegirangan. Ia merengek sama mama minta dibeliin zebra terus disimpan di belakang rumah, mama gue yang lagi minum softdrink membulatkan matanya, napasnya tidak teratur mendengar Fadel bilang gitu, mama memang selalu hiperbola. Mama bukannya nggakk mau melihara zebra tapi mama takut kalau Fadel ngikutin aktifitas dan kegiatan zebra setiap hari. Tubuhnya aja pernah dicoret hitam-putih hitam-putih, katanya biar kayak zebra. Plisdeh.
            Selain itu waktu Fadel habis nonton despicable me, dia ingin berubah jadi minions, katanya minions itu lucu, unik, langka, warnanya kuning trus banyak yang suka. Gue sih nggakkk masalah kalau Fadel berbuah jadi minions, nggakkk ngaruh. Gue pernah saranin sama Fadel kalau mau berubah jadi Avatar aja, kan lucu ada kekuatan api, angin dan airnya itu. Atau kalau nggka jadi Diego aja kan Diego penyayang binatang sapatau aja Fadel bisa berteman baik dengan Diego, dan Diego dengan baik hati memperkenalkan zebranya kepada Fadel. Nggakk kebayang kebahagiaan Fadel kayak gimana.
            Satu lagi penghuni di rumah singa ini, yaitu Atul Al Salshabila, namanya cantik, orangnya juga mirip-mirip gitu deh sama artis cilik Salsha Winxs. Nah gue nama udah kayak cowok, keluakuan juga cowok abis. Atul ini cewek yang bisa dibilang sok dewasa padahal baru kelas II SD, gigi atasnya ompong dua, katanya keren. Poninya seperti di lem alteco, lengket banget sama jidadnya yang jenong. Kayaknya waktu proses pemotongan poni Atul, si tukang cukur nggakkk napas. Atul suka banget sama yang berbau olahraga, sepertinya dia bercita-cita ingin menjadi atletik. Tapi gue heran, biasanya cewek sekecil dan seunyu dia paling tertarik ikut les nari balet gitu, tapi Atul beda. Dia ingin menjadi boxing women. Papa sama mama gue shock berat ketika Atul mengutarakan cita-citanya, gue diam, nggakkk ngaruh sama gue.

Bab 1 (Perkenalkan, gue Ari)




            “Ariana Al Jazilah”
            “Hadirrrr buuu!!”
            “Silahkan naik ke papan tulis, kerjakan nomor 12 halaman 126”
            Mata gue terbelalak dengar nama gue disebut-sebut, kirain cuma ngabsen padahal gue disuruh ngerjain soal Matematika di papan tulis. Gue aja belum lihat soalnya udah mati kutu, bibir bawah gue bergetar, tangan gue keringat dingin, pucat. Gue buka halaman 126 gue pelototin tuh soal 12, gue nggak ngerti. Ibu Rike nyuruh gue maju dipapan tulis. Dengan langkah yang terseret gue maju juga, berdiri dihadapan teman-teman dengan tingkat kepedan yang tinggi. Gue mulai ngadap papan tulis, nulis soal 12. Setelah nulis soalnya, gue matung beberapa menit, alasannya gue matung karena nggak tahu cara selesainnya gimana.
            Mungkin hari ini Ibu Rike lagi PMS, jadi beliau agak gimana gitu sama siswanya, gue yang terlalu polos jadi korban pertamanya Ibu Rike. Gue dimaraih habis-habisan sama beliau, mau gimana lagi gue masang muka tembok aja. Sok tegar padahal rapuh, hasikkkk... Gue yang nggak tahu sama sekali soal itu, disuruh nyari jawabannya sampai ketemu. Gue minta izin, ditangan gue ada buku dan pulpen dan siap nanya sama guru matematika gue yang satu lagi yaitu Pak Rais.
            Hai, perkenalkan kalian para pembaca (kalo ada yang baca sih) nama gue Ariana Al Jazilah, keren kan? Kayak nama-nama Islam gitu kan? Gue akrab dipanggil ‘Rii’ sebenarnya nama panggilan asli gue itu ARI. Tapi sumpah nggak pake bohong tapi pake jujur itu nama cowok banget! Tetangga lorong pertama dari rumah gue ada yang namanya Ari, teman TK-SD-SMP-SMA ada yang namanya Ari, penjual keramik di pasar sebelah namanya Ari, adik kelas gue ada yang namanya Ari, potlantas yang pernah nilang gue namanya Ari, anak teman arisan mama namanya Ari, teman se-geng Fadel namanya Ari, penagih galon di rumah namanya Ari, pemain catur terhebat yang gue kenal namanya Ari, teman twitter ada yang namanya Ari, pejabat paling kaya se-Jogjakarta pun namanya Ari. Ari itukan udah ada di mana-mana, Ari sedunia, kayaknya si Ari nyaingin Udin sedunia deh.
            Kalau ada yang ngajak kenalan, gue cuma nyuruh mereka manggil ‘Rii’ teman SD gue yang sekarang nggak tahu rimbanya di mana pernah nanya gini “Kenapa nama lo nggak Riri aja?” gue diam, cerna pertanyaannya. Terus gue jawab gini “Gue gabisa nyebut R secara berdekatan”. Itu alasan yang paling aman buat gue supaya nggak ditanya-tanya lagi sama Mak Lampir itu, yang gue tahu cita-cita dia waktu SD itu pengen jadi ‘WARTAWAN’. Udah tahukan nama gue? Manggilnya ‘Rii’ aja yaa!! Jangan panggil Ari atau Riri, gue nggak bakalan balik, sampai lo nangis darah campur air mata buaya gue nggak akan balik. Nggak akan, sekali lagi nggak akan (ksip ini terlalu dramatis buat para readers).
 Gue ngintip dari kejauhan ruang guru, Pak Rais sedang duduk bersantai dengan buku Matematika di tangannya.
“Pak, aku mau nanya soal matematika nih pak. Bolehkan?”
Beliau menyambutnya senang. Gue perlihatkan soal halaman 126 no.12, Pak Rais geleng-geleng kepala, natap gue, terus geleng-geleng lagi.
“Kamu Ari kan?”
“Iyaaa, pak. Kenapa?”
Jantung gue berdegup lebih kencang dari biasanya, gue pikir beliau bakal marah habis-habisan sama gue setelah Ibu Rike. Gue lihat Pak Rais megang soal yang gue berikan dan masih geleng-geleng.
“Kenapa nama kamu Ari?”
Spontan jantung gue hampir lompat, gue hampir pingsan di tempat, tapi mengingat siapa yang akan ngangkat ke UKS kalau gue pingsan, gue urungin niat itu. Dalam hati gue berpikir kenapa juga Pak Rais nanya soal nama panggilan gue, jangan-jangan cita-cita gelapnya ingin menjadi wartawan. Gue diam, Pak Rais masih natap gue sambil geleng-geleng kepala.
“Itu nama kecil aku pak, emang kenapa pak? Ada yang salah pak dengan nama Ari?”
“Tidak apa-apa” jawab Pak Rais kemudian. “Dulu waktu bapak ke RS, ada anak perempuan yang teriak meronta kesakitan, setelah bapak tanya pada suster yang lagi jaga malam susternya bilang kalau anak itu gila dan mau dikirm ke RSJ, belum sempat bapak bertanya lagi susternya langsung bilang ‘namanya Ari tuan’, sepertinya suster itu udah tahu kalau bapak ingin menanyakan nama anak itu, sekilas bapak ingat kalau bapak punya siswa perempuan yang namanya Ari. Makanya tadi saya sempat geleng-geleng kepala saat kamu memberikan saya soal Matematika, pikiran saya kamu udah gi.....laaa” jelas Pak Rais detail.
Gue tersenyum pahit, pahit banget dari obat paracetamol. Gue ngerasa mendengarkan dongeng sebelum tidur dari Pak Rais. Yang lebih pahitnya lagi, dia nyangka kalau gue orang gila itu. Setelah ninggalin Pak Rais, gue akan berdiri di depan cermin yang mengkilap dan besar, gue mau lihat muka dan badan gue, apakah gue 11:12 dengan orang gila. Batin gue berteriak.
“Wihhh kasian banget pak, gitu ya pak. Tapi bukan aku pak, aku masih normal pak. Serius deh pak”
Pak Rais udah sibuk ngerjain soal yang gue berikan pada beliau. Dia mengerjakan soalnya dengan cekatan, satu menit berlalu beliau ngasih gue kertas yang isinya jawaban soal Matematika. Gue berterima kasih bertubi-tubi kepada beliau, beliau udah cukup jadi malaikat hari ini. Beliau hanya tersenyum, gue pergi berlalu dari ruang guru itu.
Gue balik lagi ke kelas, hari ini gue tahu kalau Matematika ada 3 jam. Ibu Rike masih di dalam, gue ngetuk pintu, pintu terbuka dan gue masuk dengan keadaan nunduk. Gue lihat siswa kerabat hanya beberapa orang yang tinggal di kelas, yang lainnya kemana? Tanpa senyum dari Ibu Rike, beliau ninggalin kelas dengan kaki dihentakkan, sepertinya beliau unmood banget.
            Eh balik lagi ke nama gue, dulu waktu penerimaan rapor semester ganjil kelas IX SMP mama gue datang buat ngambilin rapor, katanya rapor nggak bakalan keluar kalau nggak diambilin orang tua. Gue sih biasa aja, nggak ngambil rapor dan ngambil rapor sama-sama nggak bikin kasus jomblo gue berakhir. (ehh enggak deng). Mama gue udah harum mewangi dengan farfum emak-emak favoritnya. Gue jalan berdua menuju ruang
            Sekarang giliran kelas gue, IX 4. Mama yang duduk di sebelah gue udah ketakutan stengah mati denger pak kepsek bakal bilang apa, nah gue malah santai sambil ngutak-ngatik handphone mama.
            “ARI” panggil kepsek pake microfont.
            Gue dan mama langsung berdiri kompak. Seluruh hadirin dan hadirat natap kami berdua keheranan. Di belakang kami juga berdiri seorang bapak dan anak cowok yang keheranan. Gue baru ingat, yang di panggil bukan Ari gue tapi, Ari anak IX 2. Gue ketawa kesal dalam hati. Gue nyuruh mama duduk dan jelasin sama mama kalau bukan Ari gue yang dipanggil kepsek. Mama ngangguk-ngangguk tanda ngerti. Operator juga salah, kirain udah rapor anak-anak IX 4 yang ditampilin eh malah nyasar anak IX 2.
            “Riri” panggil kepsek lagi.
            Mama gue berdiri, gue tetap duduk di tempat. Mama ditatap puluhan undangan yang hadir di acara itu. Mama malah senyum kegirangan melihat dirinya menjadi pusat perhatian. Pak kepsek bilang “Bukan Riri anak ibu yang kami panggil” eh Riri yang asli langsung jalan di samping mama, Riri asli melempar senyum manis ke mama. Mama duduk dengan wajah tanpa malu.
            “ARI” panggil pak kepsek setelah menyebutkan 3 nama setelah Riri yang asli.
            Gue dan mama nggak bereaksi. Gue yang masih sibuk ngutak-ngatik handphone mama biasa aja, nungguin kalau nama gue udah benar-benar dipanggil. Mama juga sebaliknya, beliau cuek bebek dengan panggilan pak kepsek di atas.
            “ARI” panggil kepsek sekali lagi.
            Gue sempat noleh, nggak ada yang berdiri. Para undangan mencari-cari Ari yang dipanggil pak kepsek. Gue sempat berpikir kalau Ari yang dipanggil itu duduk diluar bersama orang tuanya, makanya dia nggak dengar pak kepsek. Dipanggilnya juga udah pake mike masa iya nggak dengar, gue ngoceh dalam hati.
            “Panggilan ke tiga, Ari, Riri atau Ariana Al Jazilah” suara pak kepsek terpantul ke penjuru ruangan.
            Gue berdiri, dilihat semua hadirin. Gue salting, pasti hadirin dan hadirat udah nyimpulin kalau gue itu ‘AUTIS’ ewh enggak banget kan. Mama gue nyantai aja, dia berdiri dan merapikan pakaiannya yang kusut karena kelamaan duduk. Gue dan mama jalan ke meja pembagian rapor, pak kepsek tersenyum. Beliau natap gue penuh kasih sayang (hasekkkk), beliau bilang gini “Nak, belajarnya harus ditingkatkan ya. Tahun depan kan nak Ari udah Ujian Nasioanal” gue balas dengan senyuman termanis yang gue miliki.
            Berasa cowok banget gue dipanggil Ari di depan puluhan hadirin dan hadirat. Mama saking senangnya ah gue nggak tahu jelasinnya gimana, yang jelas saat pembagian rapor itu mama minta foto bareng pak kepsek dan gue di tengah keramaian gitu, gue berusaha bikin senyum gue semanis gula. Ditatap puluhan orang yang sedang duduk di bawah, dan gue sama mama berdiri di atas panggung. Yang bikin ngeselin lagi, bukan cuma pak kepsek aja yang foto bareng, tapi mama juga manggil wali kelas gue untuk foto bareng. Bang One sampai nangis gue ceritaiin peristiwa pembagian rapor itu, Bang One nangis bukan karena terharuh tapi karena tenaganya terkuras habis untuk ketawa. “HAHAHAHA MAMA LO HITZ YA ARI!! HAHAHA” kata Bang One setelah gue memperlihatkan 12 foto yang sempat terambil di handphone mama. Besok-besok kalau penerimaan rapor, gue bawa papa ah. Sorak gue dalam hati. Huhuhu..