Ketakutan
ini melebihi ketakutan dari apapun. Misalnya, lo dikejar anjing di sebuah gang
yang kecil dan sempit, gang ini hanya cocok dengan ukuran badan lo dan anjing
itu, anjing mengonggong terus mengejar lo, lo lari terbirit-birit seperti
menolong orang yang kecopetan. Maka di satu sisi anjingnya akan bernyanyi gini:
smakin kukejar smakin kau jauh, tak pernah letih tuk dapatkanmu terus berlari
hinggak terjatuh, terjatuh lagi ahhhh. Dengan sigap dan pedenya lo ngebalas
lagu yang dinyanyikan anjing tersebut seperti ini: aku terjatuh dan tak bisa
bangkit lagi, aku tenggelam dalam lautan luka dalam, aku tersesat dan tak tahu
arah jalan pulang (putar musik lalu nyanyi).
Gue
dengan posisi yang masih di depan layar notebook
terus ngotak-ngatik keyboard notebook,
gue sibuk dengan sesuatu.
“Rii,
besok kimia 3 jam ya?” Tanya Lai dengan komik ditangan kirinya.
“Yap,
kenapa?” Tanya gue balik.
“Katanya
besok sistem tunjuk-menunjuk, ih takut.”
“Lu
kira mau ke neraka. Pake takut segala.”
Entah
apa yang membuat gue dan kawan-kawan takut ngadapin pelajaran kimia. Besok,
hari Sabtu bakalan jadi hari neraka setiap minggunya tapi jangan sampai neraka
sungguhan deh. Jam pertama di isi oleh fisika 3 jam, kedua biologi 3 jam, dan
terakhir kimia 3 jam. Hello Exact Day!
Setiap malam Sabtu, gue bakalan mojok di kamar dan ngeluh “Kenapasihhh dulu
gamasuk kelas IPS, duh bikin ribet aja. Idup udah ribet lagi” (tangan dikepala
sambil ngacak-ngacak rambut). Itulah keluhan gue tiap malam Sabtunya, dan malam
Minggu gue bakal bilang gini “Alhamdulillah, ternyata gue bisa lewatin
Saturday. Omg, kirain hari Sabtunya gue udah nyampe di neraka” (senyum bak seorang
pemenang di depan cermin). Faktanya, kimia itu ribet. Sebenarnya sih simple
kalau kita mengerti tapi kayaknya gue nggak pernah ngerti dengan pelajaran
tersebut, ditambah guru yang ngajar sedikit killer dan suka nunjuk-nunjuk
seusai pembelajaran, nah gue itu salah satu korban setiap Jum’at dan Sabtu
(pray for ARIL).
Sampai
di rumah gue langsung menuju kamar di lantai 2, hari ini cukup menguras tenaga.
Gue capek bukan main, sebelum gue menghempaskan tubuh di tempat tidur, gue
merogoh-rogoh ransel mencari sesuatu dan iPhone pun keluar. Gue membuka salah
satu sosial media berbentuk burung, eits jangan fiktor burung yang gue maksud
di sini bukan burung itu kok tapi twitter,
lihat aja gambarnya bentuk burung, udah-udah nggak usah bahas burung(?).
Gue menekan tombol tulis tweet “DucCHh c4p3k
n1cHh. bR pLnG cKuLah, b0b0 c4nt1k dulueh ah” Begitulah kebiasaan gue tiap
hari. Etapi siapa bilang gue belum sembuh dari penyakit alay, gue udah sembuh
loh, buktinya nama facebook gue udah
diganti dari (4r1An4 5u5aH M0v3 0N) diperbaharui menjadi (Ariana Udah Bisa Move
On Dari Doi Karena Doi Nggak Pernah Peka) kurang hitz apalagi coba?.
Malam ini, gue harus menggunakan 3 jurus yang udah
nggak lazim dalam kehidupan gue. Yang pertama “The Power Of Kepepet” gue harus
ngedit beberapa foto untuk dijadikan sampul album dalam kegiatan pameran nanti,
belum lagi gue kudu belajar kimia untuk ngadapin tivi besar di kelas (baca:
papan tulis). Kedua “The Power Of Doa” di samping berusaha, gue juga harus
berdoa. Gue pernah baca di twitter ada yang ngetweet gini (usaha tanpa doa
hanya sia-sia). Dan yang ketiga “The Power Of Pasrah” nah yang ketiga ini kalau
gue benar-benar nggak sanggup ngerjain tugas dan nggak ada keajaiban yang
datang maka gue hanya pasrah dengan nasib. Gue percaya, Allah nggak pernah
berikan cobaan kalau hambah-Nya nggak sanggup melewatinya. Gue yakin sanggup
melakukan semuanya. Sebelum menyalakan notebook,
gue update status lagi di twitter (Cemumut
ea) kali ini gue ngetweet dengan huruf yang nggak bolak-balik, gue capek
mengubah gaya tulisannya dari besar-kecil-besar-keil. Dasar.
Setelah
selesai memindahkan beberapa foto dari kamera ke notebook, gue milih beberapa foto yang unik, mulai dari candid sampai yang bukan candid. Soal editing, gue nggak jago-jago
amat, gue masih harus banyak belajar dari editing
foto terkenal. Satu setengah jam lamanya gue berkutat dengan notebook. Finish. Gue tersenyum puas di
depan layar notebook. Setelah
senyum-senyum selama 2 menit gue teringat kalau besok hari Sabtu, exact day men exact day! Gue matikan notebook terus ngambil iPhone, gue
ngambil iPhone bukan buat ngecek apakah ada sms masuk dari pacar atau gebetan,
yang ada gue hanya di sms bendahara kelas “Rii, besok lunasin ya bayarnya. 15
rebu”. Gue membuka situs jejaring sosial berbentuk burung dan update (LAGI)
‘Akhirnya, selesai juga. Skrg siap2 belajar kimia, yakin arisan gue pasti naik
ngadapin tipi besar’. Alhamdulillah gue udah berubah, nggak 4L4Y lagi, mungkin
karena faktor lelah.
Seperti biasanya, gue mojok dulu di kamar dan
ngeluh ini itu, uwooh gue banget. Saat gue hendak ngambil buku catatan kimia
dan pensil tiba-tiba lampu kamar kedap-kedip, gue harap bukan hantu Insidious
yang datang bertamu di kamar. Perlahan gue ngambil iPhone, kali ini gue nggak
update statuts (tumben bgt) tapi gue manfaatin sinar lampu dari iPhone untuk
memperbaiki lampu yang lagi koslet. Tapi sayang, itu bukan koslet melainkan
mati lampu satu kompleks. “Kampret. Pas catatan kimia udah di tangan, kenapa
jadi mati lampu gini, PLN nggak asik bgt. Ngajak ribut.” Gue ngunci pintu
kamar, nutup horden yang belum rapat, dan benar-benar menghempaskan tubuh ke
tempat tidur.
Sepertinya
semalam gue mimpi indah. Gue bangun dari
tidur dan merapikan tempat tidur (ini tumben banget), mandi, pakaian, sarapan
terus berangkat sekolah. Di meja makan gue selalu bertemu dengan kedua kurcaci
menyebalkan Fadel dan Atul, Bang One jarang bangun pagi, bangunnya siang mulu.
Hari ini gue berangkat bareng papa, tentunya juga bersama kedua kurcaci yang
ribet itu. Sampai di depan gerbang sekolah, gue lihat Lai berjalan dari arah
yang bersamaan.
Kelas pertama di isi oleh fisika. Tapi tumben
banget hari ini Pak Gunawan belum masuk juga. Mungkin beliau telat atau kena
macet di jalan. Anak-anak KERABAT (Keluarga Besar Ipa Empat) mulai gelisah.
Gelisah bukan karena Pak Guna nggak datang, melainkan mereka gelisah kalau Pak
Guna datang 10 menit sebelum istirahat. Soalnya tuh guru manfaatin waktu sebaik
mungkin, banget. Anak-anak kerabat mulai jaga-jaga di depan pintu kalau-kalau Pak
Guna datang tiba-tiba. Kerabat banget ya!
“Pak Guna nggak dateng. Katanya ada urusan
keluarga,” Rudi sang ketua kelas masuk bawa kabar gembira buat kerabat dengan
muka datar.
Yeahhhhhhh, kelas langsung jadi heboh.
“Tapi, pak Yusuf bakal ngambil jam pelajaran
pak Guna 1 jam. Jadi hari ini kimia 4 jam,” sambung Rudi Tabuti (eh salah) tapi
Rudi Terbukti (ini serius) .
Yeahhhhhhh, kali ini masih heboh tapi heboh
nangis satu kelas. Wkwk.
Dengan tampang lesu, gue dan kerabat hanya
nerima nasib kurang baik itu. 20 menit lagi Pak Yusuf bakalan masuk dan ritual
tunjuk menunjuk akan terjadi. Sekarang anak kerabat siap menghadapi 135 menit
dalam ketakutan. Tapi kali ini beda, 135 menit ditambah satu jam = 45 menit.
Jadi 180 menit atau 4 jam, 4 jam men 4 jam. Gue hanya bisa pasrah. Kali ini
jantung gue berdetak lebih kencang lagi, bukan anjing lagi yang ada di gang itu
tapi buaya, kodok, dinosaurus, semut, lalat, elang bahkan gajah sekalipun, kan
jadinya kebun binatang, lihat kebunku penuh dengan binatang ada yang amfibi dan
ada yang mamalia hahaha (ketawa garing muka papan).
Suara langkah sepatu Pak Yusuf udah terdengar,
kerabat hapal betul suara ketukan sepatu guru kimianya itu, mantep. Masuk
dengan senyuman khasnya. Siapa yang tahu kalau saat itu sebelum Pak Yusuf
masuk, jantung anak-anak kerabat berdetak lebih cepat dari detak jantung
normalnya. Kali ini Pak Yusuf terlihat lain dari yang lain, nggak ada sistem
tunjuk-menunjuk saat PBM berlangsung. Anak-anak kerabat mulai heran, mereka
saling tatap-tatapan satu sama lain. Hening. Nggak ada suara di kelas itu.
“Tolong buka halaman 145. Kalian berjumlah
berapa dikelas ini?” Pak Yusuf membuka suara.
“30 pak!!!!”
“Disini ada 32 soal, kalian kerjakan menurut
nomor absen kalian. Setelah itu kalian jelaskan pekerjaan kalian ke teman yang
lain. Saat saya masuk, satu per satu saya suruh kalian kerjakan ke papan tulis.
Kalau teman kalian tidak mengerti berarti nilai kalian rendah. Intinya nilai
kalian bergantung dengan teman kalian,” jelas Pak Yusuf panjang kali lebar sama
dengan luas.
Hening. Anak-anak kerabat hanya menelan ludah
pahit ditenggorokan.
“Saya mau keluar sebentar. Kalian harap tenang
ya.”
Pak Yusuf berlalu dari kelas yang
dominan berwarna abu-abu muda itu. Tampaknya beliau ada urusan di luar. Anak
kerabat mulai mengeluh ini-itu. Gue milih gabung dengan Anit, faktanya Anit itu
pakar kimia di kelas. Setelah dijelaskan oleh Anit dengan seksama, gue kembali
ketempat duduk lagi. Tapi belum lama, gue lupa lagi cara ngerjain soal yang
dijelaskan Anit tadi. Kapasitas otak gue udah penuh, rasanya mau direfresh sebentar, terus diformat, lalu
diisi lagi. Tapi sayang itu bukan flashdisk
yang se-enaknya direfresh lalu diformat.
Karena bosan menunggu Pak Yusuf datang, gue
bergabung dengan anak kerabat cowoknya, ternyata mereka lagi nonton film yang
katanya The Series ‘Malam Minggu Miko’ film buat jomblo yang cocok dinonton
saat malam Minggu tiba. Jangan sekali-kali nonton pada malam Jum’at, bukan
apa-apa tapi judulnya akan berubah jadi ‘Malam Jum’at Miko’ dan itu
kedengarannya mistis banget. Tiap malam Jum’atnya bakal nangkring di kuburuan
buat nungguin jodoh yang cocok buat Miko.
Kurang
lebih 15 menit berlalu, Pak Yusuf tiba-tiba udah staycool di depan pintu. Beliau memegang perutnya dengan muka
cemas, sepertinya beliau sakit perut. Satu persatu anak kerabat mulai menunduk
dan berdoa, bukan menunduk karena takut ditunjuk melainkan mereka berdoa agar Pak
Yusuf nggak mengajar dan pulang ke rumah beristirahat. Ekspresi muka anak-anak
kerabat sangat lucu, ada yang sok santai tapi dalam hatinya udah greget takut ditunjuk, ada yang
bolak-balik minta izin ke WC, ada yang nggak berani sama sekali natap papan
tulis, ada juga yang mulutnya komat-kamit baca mantra, ada yang sengaja
menjatuhkan pulpennya di bawah kolong meja lalu dipungut, dijatuhkan lagi,
dipungut lagi begitu seterusnya. Gue dan Lai masuk kategori ‘Sok santai tapi
perasaan nggak nyantai’
“Mungkin hari ini kalian beruntung. Saya mau
pulang nak, perut bapak sakit, hari Jum’at depan bapak langsung tunjuk kalian
naik ke papan tulis. Kalian belajar dulu, kalau ada soal yang tidak dimengerti
tanyakan kepada teman kalian yang mengerti,” lagi-lagi jelas Pak Yusuf panjang
kali lebar sama dengan lebih luas.
Hening. Anak kerabat nggak ada yang berani
buka suara. Mereka sok tertunduk lesuh ikut merasakan
kesakitan Pak Yusuf padahal dalam hati mereka ada yang udah meneriakkan kata
‘YES.’ Setelah berpamitan, Pak Yusuf buru-buru meninggalkan kelas. Seketika
juga ada anak kerabat yang mutar lagu We
Are The Champion, benar-benar kerabat namanya. Anak kerabat menghelai nafas
dalam-dalam. Mengucap syukur begitu hikmat, sampai ada yang mengambil air wudhu
untuk shalat dhuhur dan berterima kasih pada Allah SWT padahal belum waktu
dhuhur. Gue sebenarnya ingin lompat dari gedung sekolah sebagai tanda terima
kasih gue kepada Allah SWT tapi mengingat gue masih jomblo jadi aksi mainstream tersebut gue batalkan.
Jam kimia masih ada 1 stengah jam, anak
kerabat ada yang bosan karena nggak ada kegiatan, giliran ada guru ngeluh,
giliran nggak ada malah kelas seperti kuburuan band. Untuk pertama kalinya
mereka freclass pelajaran kimia.
Benar-benar momen yang paling ditunggu-tunggu anak kerabat, kerabat wajib
mencatat detik-menit-jam-hari-tanggal-bulan dan tahun ini (ksip ini terlalu
dramatis).
“Panggilan buat semua guru yang berada di
dalam ruangan guru, perpustakaan, kelas, kantin, penjual bakso, mushallah,
maupun WC diharapkan menuju ruang rapat sekarang. Ada rapat penting yang akan
kita bicarakan,” terdengar suara Pak Agus dari speaker yang terletak disudut jendela atas kelas Ipa Satu. Pak
Rustam guru biologi yang udah berada di anak tangga yang kesepuluh hanya
tersenyum melihat siswanya bahagia. Kali ini lagu We Are The Champion bukan terdengar di kelas Ipa Empat aja
melainkan seluruh penjuru koridor anak kelas sebelas. Gue berdehem dan mendecak
kesal “Kalau tau gini mending gausah kesekolah aja.” Makanya jangan jomblo Rii
*eh. Hari ini surga dunia khsususnya buat anak kerabat, baru kali ini merasakan
bahagia yang luar biasa, duh kasihan mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar