Selasa, 24 Desember 2013

Bab 3 (225 Menit dalam Ketakutan)




            Ketakutan ini melebihi ketakutan dari apapun. Misalnya, lo dikejar anjing di sebuah gang yang kecil dan sempit, gang ini hanya cocok dengan ukuran badan lo dan anjing itu, anjing mengonggong terus mengejar lo, lo lari terbirit-birit seperti menolong orang yang kecopetan. Maka di satu sisi anjingnya akan bernyanyi gini: smakin kukejar smakin kau jauh, tak pernah letih tuk dapatkanmu terus berlari hinggak terjatuh, terjatuh lagi ahhhh. Dengan sigap dan pedenya lo ngebalas lagu yang dinyanyikan anjing tersebut seperti ini: aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi, aku tenggelam dalam lautan luka dalam, aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang (putar musik lalu nyanyi).
            Gue dengan posisi yang masih di depan layar notebook terus ngotak-ngatik keyboard notebook, gue sibuk dengan sesuatu.
            “Rii, besok kimia 3 jam ya?” Tanya Lai dengan komik ditangan kirinya.
            “Yap, kenapa?” Tanya gue balik.
            “Katanya besok sistem tunjuk-menunjuk, ih takut.”
            “Lu kira mau ke neraka. Pake takut segala.”
            Entah apa yang membuat gue dan kawan-kawan takut ngadapin pelajaran kimia. Besok, hari Sabtu bakalan jadi hari neraka setiap minggunya tapi jangan sampai neraka sungguhan deh. Jam pertama di isi oleh fisika 3 jam, kedua biologi 3 jam, dan terakhir kimia 3 jam. Hello Exact Day! Setiap malam Sabtu, gue bakalan mojok di kamar dan ngeluh “Kenapasihhh dulu gamasuk kelas IPS, duh bikin ribet aja. Idup udah ribet lagi” (tangan dikepala sambil ngacak-ngacak rambut). Itulah keluhan gue tiap malam Sabtunya, dan malam Minggu gue bakal bilang gini “Alhamdulillah, ternyata gue bisa lewatin Saturday. Omg, kirain hari Sabtunya gue udah nyampe di neraka” (senyum bak seorang pemenang di depan cermin). Faktanya, kimia itu ribet. Sebenarnya sih simple kalau kita mengerti tapi kayaknya gue nggak pernah ngerti dengan pelajaran tersebut, ditambah guru yang ngajar sedikit killer dan suka nunjuk-nunjuk seusai pembelajaran, nah gue itu salah satu korban setiap Jum’at dan Sabtu (pray for ARIL).
            Sampai di rumah gue langsung menuju kamar di lantai 2, hari ini cukup menguras tenaga. Gue capek bukan main, sebelum gue menghempaskan tubuh di tempat tidur, gue merogoh-rogoh ransel mencari sesuatu dan iPhone pun keluar. Gue membuka salah satu sosial media berbentuk burung, eits jangan fiktor burung yang gue maksud di sini bukan burung itu kok tapi twitter, lihat aja gambarnya bentuk burung, udah-udah nggak usah bahas burung(?).
Gue menekan tombol tulis tweet “DucCHh c4p3k n1cHh. bR pLnG cKuLah, b0b0 c4nt1k dulueh ah” Begitulah kebiasaan gue tiap hari. Etapi siapa bilang gue belum sembuh dari penyakit alay, gue udah sembuh loh, buktinya nama facebook gue udah diganti dari (4r1An4 5u5aH M0v3 0N) diperbaharui menjadi (Ariana Udah Bisa Move On Dari Doi Karena Doi Nggak Pernah Peka) kurang hitz apalagi coba?.
Malam ini, gue harus menggunakan 3 jurus yang udah nggak lazim dalam kehidupan gue. Yang pertama “The Power Of Kepepet” gue harus ngedit beberapa foto untuk dijadikan sampul album dalam kegiatan pameran nanti, belum lagi gue kudu belajar kimia untuk ngadapin tivi besar di kelas (baca: papan tulis). Kedua “The Power Of Doa” di samping berusaha, gue juga harus berdoa. Gue pernah baca di twitter ada yang ngetweet gini (usaha tanpa doa hanya sia-sia). Dan yang ketiga “The Power Of Pasrah” nah yang ketiga ini kalau gue benar-benar nggak sanggup ngerjain tugas dan nggak ada keajaiban yang datang maka gue hanya pasrah dengan nasib. Gue percaya, Allah nggak pernah berikan cobaan kalau hambah-Nya nggak sanggup melewatinya. Gue yakin sanggup melakukan semuanya. Sebelum menyalakan notebook, gue update status lagi di twitter (Cemumut ea) kali ini gue ngetweet dengan huruf yang nggak bolak-balik, gue capek mengubah gaya tulisannya dari besar-kecil-besar-keil. Dasar.
            Setelah selesai memindahkan beberapa foto dari kamera ke notebook, gue milih beberapa foto yang unik, mulai dari candid sampai yang bukan candid. Soal editing, gue nggak  jago-jago amat, gue masih harus banyak belajar dari editing foto terkenal. Satu setengah jam lamanya gue berkutat dengan notebook. Finish. Gue tersenyum puas di depan layar notebook. Setelah senyum-senyum selama 2 menit gue teringat kalau besok hari Sabtu, exact day men exact day! Gue matikan notebook terus ngambil iPhone, gue ngambil iPhone bukan buat ngecek apakah ada sms masuk dari pacar atau gebetan, yang ada gue hanya di sms bendahara kelas “Rii, besok lunasin ya bayarnya. 15 rebu”. Gue membuka situs jejaring sosial berbentuk burung dan update (LAGI) ‘Akhirnya, selesai juga. Skrg siap2 belajar kimia, yakin arisan gue pasti naik ngadapin tipi besar’. Alhamdulillah gue udah berubah, nggak 4L4Y lagi, mungkin karena faktor lelah.
Seperti biasanya, gue mojok dulu di kamar dan ngeluh ini itu, uwooh gue banget. Saat gue hendak ngambil buku catatan kimia dan pensil tiba-tiba lampu kamar kedap-kedip, gue harap bukan hantu Insidious yang datang bertamu di kamar. Perlahan gue ngambil iPhone, kali ini gue nggak update statuts (tumben bgt) tapi gue manfaatin sinar lampu dari iPhone untuk memperbaiki lampu yang lagi koslet. Tapi sayang, itu bukan koslet melainkan mati lampu satu kompleks. “Kampret. Pas catatan kimia udah di tangan, kenapa jadi mati lampu gini, PLN nggak asik bgt. Ngajak ribut.” Gue ngunci pintu kamar, nutup horden yang belum rapat, dan benar-benar menghempaskan tubuh ke tempat tidur.
            Sepertinya semalam gue mimpi indah. Gue  bangun dari tidur dan merapikan tempat tidur (ini tumben banget), mandi, pakaian, sarapan terus berangkat sekolah. Di meja makan gue selalu bertemu dengan kedua kurcaci menyebalkan Fadel dan Atul, Bang One jarang bangun pagi, bangunnya siang mulu. Hari ini gue berangkat bareng papa, tentunya juga bersama kedua kurcaci yang ribet itu. Sampai di depan gerbang sekolah, gue lihat Lai berjalan dari arah yang bersamaan.
Kelas pertama di isi oleh fisika. Tapi tumben banget hari ini Pak Gunawan belum masuk juga. Mungkin beliau telat atau kena macet di jalan. Anak-anak KERABAT (Keluarga Besar Ipa Empat) mulai gelisah. Gelisah bukan karena Pak Guna nggak datang, melainkan mereka gelisah kalau Pak Guna datang 10 menit sebelum istirahat. Soalnya tuh guru manfaatin waktu sebaik mungkin, banget. Anak-anak kerabat mulai jaga-jaga di depan pintu kalau-kalau Pak Guna datang tiba-tiba. Kerabat banget ya!
“Pak Guna nggak dateng. Katanya ada urusan keluarga,” Rudi sang ketua kelas masuk bawa kabar gembira buat kerabat dengan muka datar.
Yeahhhhhhh, kelas langsung jadi heboh.
“Tapi, pak Yusuf bakal ngambil jam pelajaran pak Guna 1 jam. Jadi hari ini kimia 4 jam,” sambung Rudi Tabuti (eh salah) tapi Rudi Terbukti (ini serius) .
Yeahhhhhhh, kali ini masih heboh tapi heboh nangis satu kelas. Wkwk.
Dengan tampang lesu, gue dan kerabat hanya nerima nasib kurang baik itu. 20 menit lagi Pak Yusuf bakalan masuk dan ritual tunjuk menunjuk akan terjadi. Sekarang anak kerabat siap menghadapi 135 menit dalam ketakutan. Tapi kali ini beda, 135 menit ditambah satu jam = 45 menit. Jadi 180 menit atau 4 jam, 4 jam men 4 jam. Gue hanya bisa pasrah. Kali ini jantung gue berdetak lebih kencang lagi, bukan anjing lagi yang ada di gang itu tapi buaya, kodok, dinosaurus, semut, lalat, elang bahkan gajah sekalipun, kan jadinya kebun binatang, lihat kebunku penuh dengan binatang ada yang amfibi dan ada yang mamalia hahaha (ketawa garing muka papan).
Suara langkah sepatu Pak Yusuf udah terdengar, kerabat hapal betul suara ketukan sepatu guru kimianya itu, mantep. Masuk dengan senyuman khasnya. Siapa yang tahu kalau saat itu sebelum Pak Yusuf masuk, jantung anak-anak kerabat berdetak lebih cepat dari detak jantung normalnya. Kali ini Pak Yusuf terlihat lain dari yang lain, nggak ada sistem tunjuk-menunjuk saat PBM berlangsung. Anak-anak kerabat mulai heran, mereka saling tatap-tatapan satu sama lain. Hening. Nggak ada suara di kelas itu.
“Tolong buka halaman 145. Kalian berjumlah berapa dikelas ini?” Pak Yusuf membuka suara.
“30 pak!!!!”
“Disini ada 32 soal, kalian kerjakan menurut nomor absen kalian. Setelah itu kalian jelaskan pekerjaan kalian ke teman yang lain. Saat saya masuk, satu per satu saya suruh kalian kerjakan ke papan tulis. Kalau teman kalian tidak mengerti berarti nilai kalian rendah. Intinya nilai kalian bergantung dengan teman kalian,” jelas Pak Yusuf panjang kali lebar sama dengan luas.
Hening. Anak-anak kerabat hanya menelan ludah pahit ditenggorokan.
“Saya mau keluar sebentar. Kalian harap tenang ya.”
            Pak Yusuf berlalu dari kelas yang dominan berwarna abu-abu muda itu. Tampaknya beliau ada urusan di luar. Anak kerabat mulai mengeluh ini-itu. Gue milih gabung dengan Anit, faktanya Anit itu pakar kimia di kelas. Setelah dijelaskan oleh Anit dengan seksama, gue kembali ketempat duduk lagi. Tapi belum lama, gue lupa lagi cara ngerjain soal yang dijelaskan Anit tadi. Kapasitas otak gue udah penuh, rasanya mau direfresh sebentar, terus diformat, lalu diisi lagi. Tapi sayang itu bukan flashdisk yang se-enaknya direfresh lalu diformat.
Karena bosan menunggu Pak Yusuf datang, gue bergabung dengan anak kerabat cowoknya, ternyata mereka lagi nonton film yang katanya The Series ‘Malam Minggu Miko’ film buat jomblo yang cocok dinonton saat malam Minggu tiba. Jangan sekali-kali nonton pada malam Jum’at, bukan apa-apa tapi judulnya akan berubah jadi ‘Malam Jum’at Miko’ dan itu kedengarannya mistis banget. Tiap malam Jum’atnya bakal nangkring di kuburuan buat nungguin jodoh yang cocok buat Miko.
            Kurang lebih 15 menit berlalu, Pak Yusuf tiba-tiba udah staycool di depan pintu. Beliau memegang perutnya dengan muka cemas, sepertinya beliau sakit perut. Satu persatu anak kerabat mulai menunduk dan berdoa, bukan menunduk karena takut ditunjuk melainkan mereka berdoa agar Pak Yusuf nggak mengajar dan pulang ke rumah beristirahat. Ekspresi muka anak-anak kerabat sangat lucu, ada yang sok santai tapi dalam hatinya udah greget takut ditunjuk, ada yang bolak-balik minta izin ke WC, ada yang nggak berani sama sekali natap papan tulis, ada juga yang mulutnya komat-kamit baca mantra, ada yang sengaja menjatuhkan pulpennya di bawah kolong meja lalu dipungut, dijatuhkan lagi, dipungut lagi begitu seterusnya. Gue dan Lai masuk kategori ‘Sok santai tapi perasaan nggak nyantai’
“Mungkin hari ini kalian beruntung. Saya mau pulang nak, perut bapak sakit, hari Jum’at depan bapak langsung tunjuk kalian naik ke papan tulis. Kalian belajar dulu, kalau ada soal yang tidak dimengerti tanyakan kepada teman kalian yang mengerti,” lagi-lagi jelas Pak Yusuf panjang kali lebar sama dengan lebih luas.
Hening. Anak kerabat nggak ada yang berani buka suara. Mereka  sok tertunduk lesuh ikut merasakan kesakitan Pak Yusuf padahal dalam hati mereka ada yang udah meneriakkan kata ‘YES.’ Setelah berpamitan, Pak Yusuf buru-buru meninggalkan kelas. Seketika juga ada anak kerabat yang mutar lagu We Are The Champion, benar-benar kerabat namanya. Anak kerabat menghelai nafas dalam-dalam. Mengucap syukur begitu hikmat, sampai ada yang mengambil air wudhu untuk shalat dhuhur dan berterima kasih pada Allah SWT padahal belum waktu dhuhur. Gue sebenarnya ingin lompat dari gedung sekolah sebagai tanda terima kasih gue kepada Allah SWT tapi mengingat gue masih jomblo jadi aksi mainstream tersebut gue batalkan.
Jam kimia masih ada 1 stengah jam, anak kerabat ada yang bosan karena nggak ada kegiatan, giliran ada guru ngeluh, giliran nggak ada malah kelas seperti kuburuan band. Untuk pertama kalinya mereka freclass pelajaran kimia. Benar-benar momen yang paling ditunggu-tunggu anak kerabat, kerabat wajib mencatat detik-menit-jam-hari-tanggal-bulan dan tahun ini (ksip ini terlalu dramatis).
“Panggilan buat semua guru yang berada di dalam ruangan guru, perpustakaan, kelas, kantin, penjual bakso, mushallah, maupun WC diharapkan menuju ruang rapat sekarang. Ada rapat penting yang akan kita bicarakan,” terdengar suara Pak Agus dari speaker yang terletak disudut jendela atas kelas Ipa Satu. Pak Rustam guru biologi yang udah berada di anak tangga yang kesepuluh hanya tersenyum melihat siswanya bahagia. Kali ini lagu We Are The Champion bukan terdengar di kelas Ipa Empat aja melainkan seluruh penjuru koridor anak kelas sebelas. Gue berdehem dan mendecak kesal “Kalau tau gini mending gausah kesekolah aja.” Makanya jangan jomblo Rii *eh. Hari ini surga dunia khsususnya buat anak kerabat, baru kali ini merasakan bahagia yang luar biasa, duh kasihan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar