Hari
ini gue lihat orang pacaran yang sedang beradu mulut di sudut koridor, gue
merhatiin ceweknya ngomong sambil ngos-ngosan gitu. Kayaknya sih habis lari 10
putaran lapangan basket, cowoknya hanya merhatiin ceweknya ngomong. Gue
mengerutkan dahi, menatapnya sebentar lalu pergi.
Belum
jauh gue berjalan, gue lihat lagi pasangan yang lagi megang tangan
mesra-mesraan, gue hampir muntah lihatnya. Gue terusin jalan gue. Di kantin gue
beli ultramilk dan gue lihat lagi pasangan yang sedang berduaan, cowoknya
merayu ceweknya pakai bunga tapi ceweknya nolak, katanya nggak romantis. Maunya
si cewek dirayu pakai coklat, bunga mawar dan lantunan lagu melow dari Bruno
Mars ‘Just The Wey You Are’. Banyak
banget maunya. Cowoknya terus ngejar dia tapi ceweknya malah ngambek nggak
jelas. Gue bertanya sama mbak-mbak penjual minumannya “Mbak ini sekolah apa
tempat pacaran? Hari ini aku udah nemu 3 pasangan yang lagi berduaan, masih
pagi-pagi lagi.” Mbaknya diam, nggak menjawab pertanyaan gue. Gue jengkel
lihatnya, ternyata mbak-mbaknya pakai headset.
“Kenapa
lo Rii?” Tanya Lai ketika gue udah tiba di kelas.
“Gapapa.
Jengkel aja”
Sepertinya
Lai mengerti raut muka gue yang sedikit kusut, gue langsung duduk di tempat dan
buka buku catatan Matematika.
“Jengkel
kenapa? Cerita dong.”
“Jadi
kan tadi pagi gue udah nemu 3 pasangan yang lagi berduaan di sekolah, masih
pagi-pagi lagi. Heran aja ini sekolah atau tempat pacaran?”
“Terus?”
Tanya Lai dengan muka yang sedikit heran. “Wajar kali, orang pacarnya satu
sekolah. Coba aja ceweknya sekolah, cowoknya kuliah pasti nggak bakal pacaran di
sekolah, paling diantar-jemput aja terus cus ke tempat lain. Emang masalah
banget gitu buat orang yang berpacaran di sekolah menurut lo?”
Pernyataan
dan pertanyaan dari Lai membuat gue terhuyung sampai ke belakang. Buset tuh
anak asli banget soal cinta. Gua masih mikir jawaban apa yang paling tepat dan
benar buat jawab pertanyaan Lai.
“Engga
sih. Yatapi gue risih aja,” jawab gue lesuh.
Lai
nggak menghirauhkan gue, kayaknya dia nggak seargumen dengan pendapat gue
barusan. Gue sih emang pernah punya pacar satu sekolah tapi nggak segitunya
juga, nggak setiap saat harus ketemuan terus pacaran di sekolah.
Gue
kadang ngakak kalau inget kejadian adik kelas gue pacaran di sekolah terus
ketahuan sama mamanya. Waktu itu si cewek dan cowoknya lagi berduaan di kantin
makan mie ayam, mereka saling suap-suapan dengan mesra. Gue lihat jelas mamanya
si cewek turun dari mobil bersama cowok yang bukan muhrimnya(?). Si mama shock abis lihat anaknya suap-suapan
dengan cowok yang rambutnya habis dicatok, lurus terus item. Anaknya lebih shock lagi lihat mamanya turun dari
mobil bersama cowok yang bukan papanya, dan gue lebih shock lagi karena mie ayam gue belum datang juga padahal udah sejam
nungguin terus liatin orang pacaran aja.
Si
cewek bilang “Itu siapa ma?” Mamanya balik nanya “Itu siapa nak?” Cowoknya si
cewek tanpa diminta langsung memperkenalkan diri “Saya Abdul tante, pacarnya
anak tante.” Mamanya si cewek hampir pingsan mendengar si Abdul yang giginya
tonggos, kulit dan rambutnya item, badannya kurus ngomong gitu. Mamanya bilang
lagi “Nak, saya sekolahkan kamu di sini buat belajar, bukan buat pacaran”. Nggak
tahu anaknya belajar di mana atau habis ngabisin berapa mangkok mie ayam sampai
dia ngomong gini “Ma, bedanya pacaran sama belajar apa? Sama-sama di sekolah
kan?” Kali ini bukan mamanya yang hampir pingsan, tapi gue.
Gue
nggak beranjak padahal mie ayam gue udah habis. Gue lagi asik nonton layar
lebar mumpung gratis yang judulnya ‘Kepergok Mama Pacaran di Sekolah’.
Besok-besoknya si cewek adik kelas gue batang hidungnya udah nggak kelihatan
lagi, si Abdul cowoknya juga nggak kelihatan. Belakangan gue baru tahu kalau
mereka menikah, bukan cuma adik kelas gue yang menikah, tapi mamanya juga sama
cowok yang bukan muhrimnya waktu itu. Gue geleng-geleng kepala, mbak-mbak
penjual mie ayam di sekolah gue ngebu-ngebu banget pas cerita.
Waktu
gue pacaran sama teman sekolah, gue malas buat ke sekolah padahal 80% yang buat
kita bersemangat ke sekolah karena punya pacar atau gebetan di sekolah. No, itu berbanding terbalik banget sama
gue. Gue pernah baca artikel dampak negatif dan dampak positif pacaran satu
sekolah.
Ada 7 dampak positif dan negatif pacaran satu
sekolah :
1.
Prestasi Sekolah
Hanya ada dua kemungkinan, kalau nilai lo
nggak meningkat pasti menurun. Contohnya lo sama doi lagi bertengkar,
pertengkaran itu dapat mempengaruhi prestasi lo di sekolah. Coba bicarakan
baik-baik masalah yang kalian hadapi, jangan langsung emosi atau sampai putus.
Jelek banget kasusnya.
2.
Pergaulan Sosial
Pergaulan lo bakal menyempit atau meluas.
Pergaulan tambah meluas jika interaksi lo hanya berkegiatan berdua. Misalnya
melibatkan interaksi dengan orang lain (saudara, teman, keluarga, dan lain-lain).
Pergaulan tambah menyempit jika si doi membatasi pergaulan lo sama orang lain
apalagi si cewek membatasi si doi sama cowok begitu sebaiknya. So? Nggak usah
pacaran deh :p
3.
Mengisi Waktu Luang
Bisa tambah bervariatis atau justru malah
terbatas. Umumnya, pacaran nggak produktif itu seperti ngobrol, makan, nonton
bareng dan sebagianya. Namun dapat juga menjadi produktif jika kegiatan pacaran
dapat di isi dengan hal-hal seperti olahraga bersama, berkebun, berenang dan
sebagianya.
4. Keterkaitan Pacaran
dengan Seks
Pacaran mendorong remaja untuk merasa aman dan nyaman. Salah satunya adalah dengan kedekatan atau keintiman fisik. Mungkin awalnya memang sebagai tanda atau ungkapan kasih sayang, tapi pada umunya akan sulit membedakan rasa sayang dan nafsu. Karena itu perlu upaya kuat untuk saling membatasi diri agar tidak melakukan kemesraan yang berlebihan. Say no to SEKS! SEKS bisa aja asalkan Sahabatan Enjoy Karena Setia!
Pacaran mendorong remaja untuk merasa aman dan nyaman. Salah satunya adalah dengan kedekatan atau keintiman fisik. Mungkin awalnya memang sebagai tanda atau ungkapan kasih sayang, tapi pada umunya akan sulit membedakan rasa sayang dan nafsu. Karena itu perlu upaya kuat untuk saling membatasi diri agar tidak melakukan kemesraan yang berlebihan. Say no to SEKS! SEKS bisa aja asalkan Sahabatan Enjoy Karena Setia!
5. Penuh
Masalah Sehingga Berakibat Stres
Hubungan dengan pacar tentu saja nggak semulus yang lo duga, pasti banyak terjadi masalah dalam hubungan ini. Jika remaja belum siap punya tujuan dan komitmen yang jelas dalam memulai pacaran, maka akan memudahkan lo stres dan frustasi jika nggak mampu mengatasi masalahnya. Ke pegadaian aja, mengatasi masalah tanpa masalah, jangan lupa bawa KTP atau Kartu Keluarga readers.
Hubungan dengan pacar tentu saja nggak semulus yang lo duga, pasti banyak terjadi masalah dalam hubungan ini. Jika remaja belum siap punya tujuan dan komitmen yang jelas dalam memulai pacaran, maka akan memudahkan lo stres dan frustasi jika nggak mampu mengatasi masalahnya. Ke pegadaian aja, mengatasi masalah tanpa masalah, jangan lupa bawa KTP atau Kartu Keluarga readers.
6. Kebebasan
Pribadi Berkurang
Interaksi yang terjadi dalam pacaran menyebabkan ruang dan waktu untuk pribadi menjadi lebih terbatas, karena lebih banyak menghabiskan waktu untuk berduaan dengan pacar. Ada pepata sih ‘Kalau lagi berduaan serasa dunia milik berdua, yang lain pada ngontrak’ dipanggil sama emak bapak lo juga nggak bakalan dengar. Durhaka nih.
Interaksi yang terjadi dalam pacaran menyebabkan ruang dan waktu untuk pribadi menjadi lebih terbatas, karena lebih banyak menghabiskan waktu untuk berduaan dengan pacar. Ada pepata sih ‘Kalau lagi berduaan serasa dunia milik berdua, yang lain pada ngontrak’ dipanggil sama emak bapak lo juga nggak bakalan dengar. Durhaka nih.
7.
Perasaan Aman, Tenang,
Nyaman, dan Terlindungi
Hubungan emosional (saling mengasihi,
menyayangi, dan menghormati) yang terbentuk ke dalam pacaran dapat menimbulkan
perasaan aman, nyaman, dan terlindungi. Perasaan seperti ini dalam kadar
tertentu dapat membuat lo menjadi bahagia, menikmati hidup, dan menjadi situasi
yang kondusif baginya melakukan hal-hal positif.
Itu tadi gue udah kasih beberapa tips buat
pacaran satu sekolahan, jangan pernah jadikan sekolah sebagai wadah buat
berduaan dengan mesra. Berduaan jangan berduaan kalau tiada artinya, berduaan
boleh saja aaaa asal ada perlunya, bang Haji Roma saja bilang gitu? Iya nggak
sih?.
Gue putus sama doi bukan karena apa-apa, tapi
si doi mau pindah sekolah. Gue yang tahu hal itu merasakan getaran yang aneh,
besok-besok kalau di sekolah gue lihat siapa? Penyemangat gue buat sekolah
siapa? Gue sih sanggup LDR-an tapi jaman gue dulu belum ada yang namanya skype jadi gue sama doi putus
mengenaskan seperti tikus yang ekornya putus keinjek trailler. Sadis, gue
menyesal, kehilangan memang bakal terasa kalau orangnya benar-benar ngilang,
dan satu lagi bukan namanya penyesalan kalau diawal tapi pendaftaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar